I am currently posted to Obstetrics & Gynaecology Department (wad perbidanan dan sakit puan), for a month. And this morning I had a chance to do per abdominal examination on a pregnant lady, who is currently in 32 weeks of gestation.
Sebetulnya sudah beberapa kali saya berpeluang buat abdominal examination, tapi kali ini saya memang betul-betul dapat rasakan bentuk bayi yang berada di dalam perut wanita tersebut.
Melekapkan permukaan tangan saya ke perutnya, pada ulnar border (bahagian sisi tapak tangan) – saya dapat confirmkan minggu kehamilan tersebut, and I am always amazed at the clear correlation between the gestational age of the fetus and height of the fundus in centrimetres (maknanya, boleh confirmkan : ukuran ketinggian perut itu sampai paras mana bersamaan dengan berapa minggu kehamilan itu. MasyaAllah, cool kan! :D ).
Fundal grip – saya dapat rasa cephalic pole (bahagian kepala baby itu) dan podalic pole (bahagian belakang baby), umbilical grip – kedudukan baby itu, dan first pelvic grip – dapat pegang dan grab kepala baby itu.
And I excitedly exclaimed; 'I can feel the baby!' Tersenyum ibunya.
Dan masa guna fetal Doppler itu, dapat dengar bunyi denyutan jantung baby (fetal heart sound) dari dalam perut ibunya.. Sangat terharu! Ada satu nyawa yang sedang berjuang di dalam sana, yang belum pasti apakah diberi peluang untuk melihat dunia?
Betapa harus sungguh kita bersyukur atas nikmat nyawa, terlahirnya kita atas muka bumi dan dibesarkan serta hidup dalam agama fitrah ini.
Satu lagi kes patient OPD (jabatan pesakit luar), wanita tersebut sedang hamil anak kedua, tetapi anak sulungnya meninggal 24 hari selepas dilahirkan beberapa tahun lalu, kerana meconium aspiration syndrome.
Meconium ialah najis bayi yang pertama selepas atau semasa proses kelahiran. Dan bayi sulung wanita itu meninggal sebab dia tertelan najisnya sendiri selepas dilahirkan (due to fetal distress), dan kemudian najis tersebut masuk ke paru-paru.
Di dalam rahim juga, kita terapung dalam najis kita sendiri. Bendalir amnion – atau air ketuban tu datang daripada kencing kita sebenarnya. Air kencing yang penting untuk pembentukan organ-organ seperti paru-paru, ginjal, usus, saluran makanan (esophagus) dan lain-lain.
Air kencing yang melindungi (sebagai 'absorbant'), yang membolehkan kita bergerak di dalam ruang yang sempit itu, dan yang membantu proses tumbesaran kita semasa dalam rahim bonda!
Kita juga sebenarnya menelan air kencing kita sewaktu di dalam kandungan ibu. Selepas kita telan, kita kencing semula dan telan semula. Itu normal bagi fetus yang sedang membesar di dalam rahim. Kalau kita tidak mampu untuk telan kencing itu, polyhydramnios akan berlaku.
Mungkin saja kita tidak mampu hidup hari ini kerana esophageal atresia, atau duodenal atresia sebagai punca ketidakmampuan menelan kencing itu.
Kalau kita tidak mampu kencing juga - Oligohydramnios – perihal tidak cukup bendalir amnion akan berlaku, yang boleh membawa kepada pelbagai anomalies (kecacatan-kecacatan anggota).
Saya juga pernah menyaksikan beberapa kelahiran secara normal (vaginal delivery). Subhanallah. Sangat menakjubkan betapa bagaimana Allah menjadikan ada daripada tiada.
Berada di wad OBG, saya melihat keajaiban ciptaan manusia. Pada masa yang sama, saya juga melihat betapa hinanya diri sebagai hamba.
Sudahlah lahir dari saluran yang berkongsi dengan saluran qubul, hampir pula dengan saluran dubur. Setelah itu selama beberapa bulan menelan najis sendiri berkali-kali! Maka masih layakkah kita ego dengan Sang Pencipta sedangkan Dia-lah yang memelihara di dalam ruang kecil diliputi 3 kegelapan itu?
Memandang hampa pada dunia, merenung diri yang penuh dosa, mengenangkan taubat yang berkali-kali dinoda. Benteng terakhir diri hanyalah rasa tidak berputus asa pada rahmat-Nya.
Namun sebagaimana Allah telah menciptakan ada daripada tiada, dan menghidupkan yang telah mati, bukankah harapan masih ada di situ? Ada pada penciptaan dirimu!
(Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (Al Mumtahanah: 4)
- Artikel iluvislam.com
Friday, November 12, 2010
Mencari wajah Tuhan,
Menemukan aku dengan wajah jelek diriku sendiri,
Tiada yang indah pada wajah ini,
Cuma secebis nilai hamba,
Yang masih tersisa.
Mencari wajah Tuhan,
Menemukan aku dengan anjing-anjing dunia,
Mengenalkan aku dengan samseng-samseng kehidupan,
Mereka-mereka yang tak pernah berputus asa,
Menyeru namaku untuk menyertai saf mereka,
Memperjuangkan syurga sengsara.
Mencari wajah Tuhan,
Membuka sejuta kerosakan,
Membongkar semua rongga kesulitan,
Membunuh segala keluh kesah,
Membersihkan segala karat dan kekotoran,
Lalu takbir dilaung penuh merdeka,
Bebas tanpa duka lagi.
Mencari wajah Tuhan,
Menemukan aku erti hidup,
Yang selama ini ialah rahsia,
Kisah cinta sejati,hamba kepada tuannya.
Wahai Allah yang Maha Pengasih,
Aku telah jatuh cinta kepada-Mu
Hidupkanlah aku dalam cinta-Mu,
Dan matikanlah aku dalam kasih-Mu,
Izinkan aku menjadi salah seorang hamba-Mu,
Yang akan menatap wajah-Mu di dalam syurga,
Tiada duka, tiada sengsara, cuma kebahagian yg hakiki,
Balasan atas kekerdilan diri,
Mencari wajah Tuhan...
- Artikel iluvislam.com
Tiada yang indah pada wajah ini,
Cuma secebis nilai hamba,
Yang masih tersisa.
Mencari wajah Tuhan,
Menemukan aku dengan anjing-anjing dunia,
Mengenalkan aku dengan samseng-samseng kehidupan,
Mereka-mereka yang tak pernah berputus asa,
Menyeru namaku untuk menyertai saf mereka,
Memperjuangkan syurga sengsara.
Mencari wajah Tuhan,
Membuka sejuta kerosakan,
Membongkar semua rongga kesulitan,
Membunuh segala keluh kesah,
Membersihkan segala karat dan kekotoran,
Lalu takbir dilaung penuh merdeka,
Bebas tanpa duka lagi.
Mencari wajah Tuhan,
Menemukan aku erti hidup,
Yang selama ini ialah rahsia,
Kisah cinta sejati,hamba kepada tuannya.
Wahai Allah yang Maha Pengasih,
Aku telah jatuh cinta kepada-Mu
Hidupkanlah aku dalam cinta-Mu,
Dan matikanlah aku dalam kasih-Mu,
Izinkan aku menjadi salah seorang hamba-Mu,
Yang akan menatap wajah-Mu di dalam syurga,
Tiada duka, tiada sengsara, cuma kebahagian yg hakiki,
Balasan atas kekerdilan diri,
Mencari wajah Tuhan...
- Artikel iluvislam.com
Thursday, November 11, 2010
HAL-HAL YANG MENGHAPUKAN DOSA
Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Di antara hikmah Allah SWT adalah bahwa Dia menjadikan nafsu Ammarah bissu’ bagi manusia sebagai musuh-musuh yang selalu menggodanya dan mendorongnya untuk melakukan dosa serta agar dosa itu menjadi enteng dalam pandangannya dan menjauhkannya dari kebaikan. Itulah kerja nafsu Ammarah bissu’, setan dan hawa nafsu.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي
“…karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. (QS. Yusuf: 53)
Allah SWT berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. Al-Nazi’at: 40-41)
Allah SWT berfirman:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (17)kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-A’rof: 16-17.)
Allah SWT berfirman: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. (QS. Al-Furqon: 43.)
Di antara wujud kasih sayang Allah SWT bagi para hamba -Nya adalah bahwa Dia menyiapkan bagi mereka perkara-perkara yang bisa menghapuskan dosa-dosa mereka dan menghilangkannya.
Semua perkara yang menghapuskan dosa-dosa ini dan menghilangkannya adalah perkataan, perbuatan yang disyari’atkan oleh Allah SWT di dalam kitab -Nya atau dengan lisan Rasul -Nya Muhammad saw:
Di antara perbuatan itu adalah:
Pertama: Beriman kepada Allah SWT, mentauhidkannya dan beramal shaleh.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 7)
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad Muhammad saw bersabda, “Pintu-pitu surga dibuka pada hari senin dan kamis, lalu Allah mengampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.
Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar.
Allah SWT berfirman:
إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيمًا
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. Al-Nisa’: 31)
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Shalat lima waktu, jum’at yang satu kepada jum’at yang lain, Ramadhan yang satu dengan ramadhan yang lain adalah penghapus dosa selama dosa-dosa besar dijauhi”.
Ketiga: Taubat yang benar-benar taubat.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah )membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya. (69)(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. (70)kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqon: 68-70).
Keempat: Istigfar.
Allah SWT berfirman:
وَاسْتَغْفِرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Nisa’: 106)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Zaid RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Barangasiapa yang mengucapkan,
أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه
(Aku meminta ampun kepada Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri dan aku memohon taubat kepada -Nya). Maka dia akan diampuni dosa-dosanya sekalipun dia berlari dari peperangan”.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Dzar RA bahwa Nabi menceritakan tentang firman Tuhannya bahwa Dia berfirman: Wahai hambaKu sesungguhnya kalian senantiasa berbuat dosa dan kesalahan baik pada waktu siang atau malam, dan Aku mengampuni semua dosa-dosamu, maka mintalah ampun kepadaKu niscaya Aku pasti mengampunimu”.
Kelima: Berwudhu’.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Humron, budak Utsman bin Affan RA berkata, “Aku memberikan Utsman air untuk berwudhu’ lalu dia berwudhu’ dengannya, kemudian dia berkata, “Sesungguhnya banyak masyarakat yang mempertanyakan sesuatu yang datangnya dari Rasulullah SAW namun aku tidak mengetahui dari manakah sumber hadits tersebut?. Hanya saja aku pernah melihat Rasulullah Muhammad SAW berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian dia berkata, “Barangsiapa yang berwudhu’ dengan cara seperti ini maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju mesjid terhitung sebagai pahala tambahan baginya”.
Keenam: Shalat, berjalan menuju shalat.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan terhadap sesuatu yang bisa menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?. Para shahabat menjwab: “tentu, wahai Rasulullah!”. Beliau menjawab, “Menyempurnakan wudhu’ pada tempat-tempat anggota wudhu’, memperbanyak langkah menuju mesjid dan menunggu shalat setelah adzan, maka jagaan amalan tersebut (seperti pasukan yang menjaga perbatasan Negara)”.
Ketujuh: Bersedekah.
Allah SWT berfirman:
إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271)
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Muazd bin Jabal RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidakkah aku menunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?. Puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebgaimana air memadamkan api”.
Kedelapan: Haji dan Umroh.
Diriwayatkan oleh An-Nasa’I dari hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Laksanakanlah haji dan Umroh, sebab dia menghapuskan dosa-dosa, kesalahan sebagaimana pandai besi yang menghapuskan karatan besi”.
Kesembilan: Musibah yang menimpa.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA berkata: Pada saat turunnya firman Allah SWT: مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ
Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. (QS. An-Nisa’: 132). Maka kaum muslimin merasakan kesulitan yang sangat tinggi, dan Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berbuatlah yang mendekati kebenaran dan berbuatlah yang benar, maka pada setiap apapun yang menimpa seorang muslim sebagai penghapus bagi dosa-dosanya, bahkan musibah yang menimpanya atau duri yang menusuknya (sebagai penghapus dosa baginya)”.
Kesepuluh: Beribadah pada malam-malam bulan Ramadhan.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena dorongan keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT maka dia akan diampuni dosa-dosa yang pernah lalu”. Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa yang bangkit untuk beribadah pada masa-masa Ramadhan karena dorongan keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT maka akan diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu”.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad saw dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi
Di antara hikmah Allah SWT adalah bahwa Dia menjadikan nafsu Ammarah bissu’ bagi manusia sebagai musuh-musuh yang selalu menggodanya dan mendorongnya untuk melakukan dosa serta agar dosa itu menjadi enteng dalam pandangannya dan menjauhkannya dari kebaikan. Itulah kerja nafsu Ammarah bissu’, setan dan hawa nafsu.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي
“…karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. (QS. Yusuf: 53)
Allah SWT berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. Al-Nazi’at: 40-41)
Allah SWT berfirman:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (17)kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-A’rof: 16-17.)
Allah SWT berfirman: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. (QS. Al-Furqon: 43.)
Di antara wujud kasih sayang Allah SWT bagi para hamba -Nya adalah bahwa Dia menyiapkan bagi mereka perkara-perkara yang bisa menghapuskan dosa-dosa mereka dan menghilangkannya.
Semua perkara yang menghapuskan dosa-dosa ini dan menghilangkannya adalah perkataan, perbuatan yang disyari’atkan oleh Allah SWT di dalam kitab -Nya atau dengan lisan Rasul -Nya Muhammad saw:
Di antara perbuatan itu adalah:
Pertama: Beriman kepada Allah SWT, mentauhidkannya dan beramal shaleh.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 7)
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad Muhammad saw bersabda, “Pintu-pitu surga dibuka pada hari senin dan kamis, lalu Allah mengampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.
Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar.
Allah SWT berfirman:
إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيمًا
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. Al-Nisa’: 31)
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Shalat lima waktu, jum’at yang satu kepada jum’at yang lain, Ramadhan yang satu dengan ramadhan yang lain adalah penghapus dosa selama dosa-dosa besar dijauhi”.
Ketiga: Taubat yang benar-benar taubat.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah )membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya. (69)(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. (70)kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqon: 68-70).
Keempat: Istigfar.
Allah SWT berfirman:
وَاسْتَغْفِرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Nisa’: 106)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Zaid RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Barangasiapa yang mengucapkan,
أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه
(Aku meminta ampun kepada Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri dan aku memohon taubat kepada -Nya). Maka dia akan diampuni dosa-dosanya sekalipun dia berlari dari peperangan”.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Dzar RA bahwa Nabi menceritakan tentang firman Tuhannya bahwa Dia berfirman: Wahai hambaKu sesungguhnya kalian senantiasa berbuat dosa dan kesalahan baik pada waktu siang atau malam, dan Aku mengampuni semua dosa-dosamu, maka mintalah ampun kepadaKu niscaya Aku pasti mengampunimu”.
Kelima: Berwudhu’.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Humron, budak Utsman bin Affan RA berkata, “Aku memberikan Utsman air untuk berwudhu’ lalu dia berwudhu’ dengannya, kemudian dia berkata, “Sesungguhnya banyak masyarakat yang mempertanyakan sesuatu yang datangnya dari Rasulullah SAW namun aku tidak mengetahui dari manakah sumber hadits tersebut?. Hanya saja aku pernah melihat Rasulullah Muhammad SAW berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian dia berkata, “Barangsiapa yang berwudhu’ dengan cara seperti ini maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju mesjid terhitung sebagai pahala tambahan baginya”.
Keenam: Shalat, berjalan menuju shalat.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan terhadap sesuatu yang bisa menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?. Para shahabat menjwab: “tentu, wahai Rasulullah!”. Beliau menjawab, “Menyempurnakan wudhu’ pada tempat-tempat anggota wudhu’, memperbanyak langkah menuju mesjid dan menunggu shalat setelah adzan, maka jagaan amalan tersebut (seperti pasukan yang menjaga perbatasan Negara)”.
Ketujuh: Bersedekah.
Allah SWT berfirman:
إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271)
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Muazd bin Jabal RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidakkah aku menunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?. Puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebgaimana air memadamkan api”.
Kedelapan: Haji dan Umroh.
Diriwayatkan oleh An-Nasa’I dari hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Laksanakanlah haji dan Umroh, sebab dia menghapuskan dosa-dosa, kesalahan sebagaimana pandai besi yang menghapuskan karatan besi”.
Kesembilan: Musibah yang menimpa.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA berkata: Pada saat turunnya firman Allah SWT: مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ
Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. (QS. An-Nisa’: 132). Maka kaum muslimin merasakan kesulitan yang sangat tinggi, dan Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berbuatlah yang mendekati kebenaran dan berbuatlah yang benar, maka pada setiap apapun yang menimpa seorang muslim sebagai penghapus bagi dosa-dosanya, bahkan musibah yang menimpanya atau duri yang menusuknya (sebagai penghapus dosa baginya)”.
Kesepuluh: Beribadah pada malam-malam bulan Ramadhan.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena dorongan keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT maka dia akan diampuni dosa-dosa yang pernah lalu”. Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa yang bangkit untuk beribadah pada masa-masa Ramadhan karena dorongan keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT maka akan diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu”.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad saw dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi
Wednesday, November 10, 2010
Imam Dan 20 sen
Beberapa tahun dahulu, ada seorang Imam yang berasal dari Thailand telah dipanggil ke Malaysia untuk menjadi Imam tetap di sebuah masjid di Malaysia. Telah menjadi kebiasaan Imam tersebut selalu menaiki bas untuk pergi ke masjid.
Pada suatu hari, selepas Imam tersebut membayar tambang dan duduk di dalam bas, dia tersedar yang pemandu bas tersebut telah memulangkan wang baki yang lebih daripada yang sepatutnya sebanyak 20 sen.
Sepanjang perjalanan Imam tersebut memikirkan tentang wang 20 sen tersebut.
"Perlukah aku memulangkan 20 sen ni?" Imam tersebut bertanya kepada dirinya.
"Ah... syarikat bas ni dah kaya... setakat 20 sen ni.. nak beli tosei pun tak cukup," kata Imam tersebut.
Apabila tiba di hadapan masjid, Imam tersebut menekan loceng dan bas tersebut pun berhenti.
Ketika Imam tersebut ingin turun sahaja daripada bas, tiba-tiba seakan-akan dirinya secara automatik berhenti dan berpaling ke arah pemandu bas tersebut sambil memulangkan wang 20 sen tersebut.
"Tadi kamu beri saya wang baki terlebih 20 sen", kata Imam tersebut kepada pemandu bas tersebut.
"Owh... terima kasih! Kenapa awak pulangkan 20 sen ni.. kan sedikit je nilainya," pemandu bas tersebut berkata.
Imam tersebut menjawab, "Wang tersebut bukan milik saya, sebagai seorang muslim saya perlu berlaku jujur."
Pemandu bas tersebut tersenyum, dan berkata, "Sebenarnya saya sengaja memberi wang baki yang lebih sebanyak 20 sen ni, saya nak uji kejujuran kamu wahai Imam. Saya sudah berkali-kali berfikir untuk memeluk Islam."
Imam tersebut turun dari bas dan seluruh jasadnya menggigil dan kesejukan. Imam tersebut berdoa sambil menadah tangan, "Astaghfirullah!!!Ampunkan daku Ya Allah... Aku hampir-hampir menjual harga sebuah Iman dengan 20 sen!!!"
Sahabat-sahabatku sekalian...
Apa yang anda dapat daripada peristiwa di atas? Ingatlah.. kita mungkin tidak melihat dan tahu kesan tindakan kita terhadap orang lain. Kadang-kadang manusia akan menganggap kita sebagai tingkap untuk melihat ke dalam dunia Islam.
Sesungguhnya pada diri Rasulullah s.a.w. itu terdapat contoh teladan yang baik.
- Artikel iluvislam.com
Pada suatu hari, selepas Imam tersebut membayar tambang dan duduk di dalam bas, dia tersedar yang pemandu bas tersebut telah memulangkan wang baki yang lebih daripada yang sepatutnya sebanyak 20 sen.
Sepanjang perjalanan Imam tersebut memikirkan tentang wang 20 sen tersebut.
"Perlukah aku memulangkan 20 sen ni?" Imam tersebut bertanya kepada dirinya.
"Ah... syarikat bas ni dah kaya... setakat 20 sen ni.. nak beli tosei pun tak cukup," kata Imam tersebut.
Apabila tiba di hadapan masjid, Imam tersebut menekan loceng dan bas tersebut pun berhenti.
Ketika Imam tersebut ingin turun sahaja daripada bas, tiba-tiba seakan-akan dirinya secara automatik berhenti dan berpaling ke arah pemandu bas tersebut sambil memulangkan wang 20 sen tersebut.
"Tadi kamu beri saya wang baki terlebih 20 sen", kata Imam tersebut kepada pemandu bas tersebut.
"Owh... terima kasih! Kenapa awak pulangkan 20 sen ni.. kan sedikit je nilainya," pemandu bas tersebut berkata.
Imam tersebut menjawab, "Wang tersebut bukan milik saya, sebagai seorang muslim saya perlu berlaku jujur."
Pemandu bas tersebut tersenyum, dan berkata, "Sebenarnya saya sengaja memberi wang baki yang lebih sebanyak 20 sen ni, saya nak uji kejujuran kamu wahai Imam. Saya sudah berkali-kali berfikir untuk memeluk Islam."
Imam tersebut turun dari bas dan seluruh jasadnya menggigil dan kesejukan. Imam tersebut berdoa sambil menadah tangan, "Astaghfirullah!!!Ampunkan daku Ya Allah... Aku hampir-hampir menjual harga sebuah Iman dengan 20 sen!!!"
Sahabat-sahabatku sekalian...
Apa yang anda dapat daripada peristiwa di atas? Ingatlah.. kita mungkin tidak melihat dan tahu kesan tindakan kita terhadap orang lain. Kadang-kadang manusia akan menganggap kita sebagai tingkap untuk melihat ke dalam dunia Islam.
Sesungguhnya pada diri Rasulullah s.a.w. itu terdapat contoh teladan yang baik.
- Artikel iluvislam.com
NAFAS CINTA INSYIRAH
Pandangannya sedikit pun tidak beralih pada hamparan laut di hadapan. Matanya terus memandang dengan jiwa yang kosong. Kedengaran desiran ombak kecil yang menghempaskan diri ke pantai sambil bertemankan keriuhan suara tetamu-tetamu sang laut. Bibirnya menguntum senyuman kecil tatkala terpandang anak lelaki kecil yang sibuk mengutip anak-anak siput di sekitar pantai.
Berdiri di sebelahnya seorang lelaki yang mengekori setiap langkah anak kecil di hadapannya. Mungkinkah ayahnya? Tapi masakan terlalu muda? Mungkin juga abang kepada anak comel itu? Mungkin...
Ah, tidak semena-mena tangisan membasahi wajah Cahaya. Lantas pandangan dijatuhkan pada perutnya yang ditutupi baju labuh, kian membesar setiap waktu. Tidak berayah, tiada siapa, kecuali Cahaya yang putus asa. Airmatanya mengalir deras, jantungnya berdegup kencang. Kakinya lantas mengorak langkah dan terus mara setapak demi setapak.
"Adi, you dah janji nak kahwin dengan I ? Takkan you nak biar I macam ni?"
"Hey perempuan.. aku nak letak muka aku kat mana kalau aku kahwin dengan kau? Entah-entah dia bukan anak aku.. entah jantan mana punya pasal aku pula jadi mangsa."
"Sumpah Adi, I tak pernah buat kat orang lain. Apa ni? Mana janji-janji you selama ni? Gara-gara you, I pregnant sampai dibuang keluarga. Gara-gara I cintakan you lah I jadi macam ni."
"Oh... kau ingat bila keluarga kau dah buang kau, kau boleh suka-suka tinggal dengan aku? Sorry... aku pun tak nak nasib sama dengan kau.. aku masih muda lah Cahaya. Takkan aku nak jaga anak pulak?"
"So, you memang tak cintakan I lah? Selama ni you just main-mainkan I?"
"Bukannya masalah aku... kau yang terlalu percaya sangat. Dasar perempuan murah."
"Apa you kata? Eh,Adi...sedarlah diri sikit, kalau you kata I perempuan murahan, you pun lelaki murahan, takde beza."
"Baguslah kalau kau dah kata macam tu.. sebab lelaki yang kau kata murahan ni langsung takde hati kat perempuan murahan macam kau. Sekarang baik kau pergi mampus dengan anak sialan kau tu."
"You yang bawa sial kat I. Kurang ajar punya jantan. You dah musnahkan hidup I. Bodoh!"
Kereta dipacu laju dan meninggalkan Cahaya yang terkulai dengan seribu tangisan. Peristiwa yang baru beberapa jam berlalu, masih terasa bahangnya dalam jiwa. Gejolak dalam hatinya tiada siapa yang peduli. Papa?Mama?Ah...semuanya meninggalkannya terkapai-kapai lemas dalam luka yang ditanggungnya. Penyesalan yang kini memakan dirinya. Kini, hanya ditemani denyutan bayi yang tidak diminta hadirnya.
Langkahnya terus mara melangkah setapak ke hadapan, ditemani bayi hasil daripada taburan janji cinta palsu lelaki hipokrit. Mara setapak lagi dan kini air mula membasahi separuh betisnya. Tangisan dan sedu terus mengiringi aturan langkahnya . Semakin lama jasadnya dibasahi air mata dan menenggelami lebih separuh tubuhnya. Nyawanya kini bagai tiada nilai. Kini yang ada di sudut jiwa dan fikiran hanyalah mahu menemui kematian. Biar laut menjadi saksi kedukaan sang pencinta yang berdosa. Biarlah laut melemaskan jasadnya sebagaimana cinta melemaskan seluruh jiwanya. Cahaya memejamkan mata.
'Tiada gunanya hidup lagi anakku, saat dunia membenci kehadiranmu. Maafkan ibu.'
Cahaya menarik nafas sedalam-dalamnya dan berharap nafas itulah yang menjadi titik noktah dalam hidupnya. Biarlah aku pergi...
Pergi dari kelukaan...
Pergi dari semuanya...
Tiba-tiba tubuhnya disentap dari belakang dan ditarik keluar dari isi lautan, tidak semena-mena dia terbaring di tepi pantai. Cahaya bernafas tercungap-cungap. Sementara lelaki yang basah kuyup dihadapannya memandangnya dengan pandangan tajam. Titisan air dari rambutnya masih menitis dan jasadnya benar-benar bermandikan air laut petang itu. Kenapa saat-saat dia mahu membunuh diri pun masih ada halangan yang menerpa?
"Awak, banyak lagi cara lain nak selesaikan masalah, tapi bukan dengan cara ni. Awak patut fikir kesihatan bayi dalam kandungan awak tu. Jangan kerana kebodohan awak, anak yang tak bersalah pun menanggung sama."
Suara yang dilontarkan dari bibir pemuda itu menambahkan lagi hirisan luka dalam jiwanya. Jeritannya yang berbaur kemarahan tetapi masih berlapiskan kesedaran.
"Senanglah awak cakap, bukan awak yang menanggungnya. Saya yang rasa, saya yang merasai kesakitan ni, saya dah tak ada sesiapa lagi, jadi apa bezanya kalau mati sekalipun?" Bentakku melontarkan rasa yang terpendam di hati. Perkataan 'mati' itu sengaja ditekankan sebutannya.
"Ya...saya faham. Saya tak rasa semua kesakitan awak, tapi saya dapat rasakan kesedihan anak yang awak kandung tu. Allah dah berikan dia nadi dan kasih sayang dari awak, tapi ibunya sendiri yang ingin membunuhnya. Anak mana yang mampu terima semua tu? Awak silap kalau awak rasa mati lebih baik."
"Huh...awak ingat saya kisah semua tu? Pergi jahanamlah ceramah awak tu."
"Saudari, saya tiada niat sedikit pun nak menzalimi saudari, niat saya cuma nak membantu. Seandainya awak menolak niat baik saya, sekurang-kurangnya benarkan anak dalam kandungan tu menerimanya. Itu saja saya mahukan daripada awak."
"Kenapa awak ambil peduli dengan anak dalam kandungan ni? Awak bukan ayahnya. Ayahnya sendiri tidak mengaku, apa lagi orang luar yang baru saya kenali? Lagipun, untuk pengetahuan awak...bayi dalam kandungan ni anak yang akan lahir tanpa perkahwinan yang sah. Orang kata anak haram. Melahirkan anak ni samalah menambahkan lagi kedukaan kepada anak ni."
"Anak dalam kandungan tu tak bersalah. Anak tu tetap lahir dalam keadaan suci. Bertaubatlah saudari, Allah masih memberi kasih sayangnya dengan memberikan awak nyawa untuk terus hidup dan nafas untuk terus kekal dalam dunia yang sementara ni. Saya peduli anak tu sebab..."
Katanya terhenti di situ. Cahaya mengangkat kening meminta kata-kata lelaki itu diteruskan. Dia mula meragui keikhlasan lelaki dihadapannya. Malangnya, ketika itu muncul kelibat budak lelaki comel tadi menerpa ke arah lelaki itu dan memegang erat tangannya. Mata budak itu merenung Cahaya. Renungan yang menghantar rasa sebak di ruang hati Cahaya.
"Abang tak nak ajak kakak ni balik sama ke? Kesian dia bang...jom la kita balik, nanti umi marah pula."
Gesa budak itu sambil terus menarik tangan Cahaya. Saat itu Cahaya hanya mampu menurut, terdiam dan terpana dengan tindakan anak kecil itu. Budak lelaki itu terus tersenyum sambil kedua-dua belah tangannya berpaut pada genggaman tangan Cahaya dan lelaki tadi. Cahaya terkedu namun membiarkan sahaja langkahnya menuruti mereka.
*****
Niatnya untuk menyatakan kemaafan pada lelaki itu terpadam lagi. Kelibat lelaki itu tidak kelihatan di rumah. Kemana agaknya Adam dan Aiman pergi saat-saat malam begini? Cahaya resah. Dirinya tidak dapat duduk betah. Sekejap menghadap ke kiri, sekejap menghadap ke kanan. Sekejap bangun menuju ke pintu dan sekejap lagi dia duduk kembali ke katil. Tanpa disedarinya tingkah lakunya diperhatikan umi.
"Kenapa nak? Tak selesa ke?" Umi yang bertelekung duduk di sisi Cahaya.
"Tak de la makcik. Bukan macam tu.." Bagaimana harus ku luahkan pada Umi tentang niatku?"
"Umi lihat dari tadi Cahaya mundar mandir dalam bilik. Anak sakit?"
"Tak, makcik."
"Panggil saja umi, kan lebih senang. Ya tak ya, anak ni namanya siapa?"
"Cahaya."
"Nur ke Nurul?"
"Tak...Cahaya Danisha."
"Subhanallah, cantik nama tu. Cahaya.."
Cahaya tersenyum hambar, seakan nama itu amat bertentangan dengan dirinya yang baginya sudah kehilangan cahaya. Cahaya hidup, cahaya cinta. Kedua-duanya telah hilang cahayanya.
"Eh, kalau Cahaya nak solat, telekung ada atas meja tu. Umi dah suruh Aiman letak kat situ tadi."
"Solat? Solat apa?"
"Solat maghrib? Solat lima waktu?" Soalannya tadi dijawab dengan soalan dari umi.
'Ah, yang aku tahu cuma solat lima waktu, tapi maghrib tu solat ke berapa, niat solat, malah wudhu' pun Cahaya tidak tahu.' Cahaya tunduk dan berasa dirinya dihempap soalan yang mengunci lidahnya. Keluarganya selama ini tidak menitikberatkan soal agama. Bagi mereka syahadah itu sudah cukup membuktikan mereka Islam. Cahaya dihantar ke sekolah aliran Cina. Sekolahnya tidak mewajibkan para pelajar mendekati ilmu agama secara praktikal. Cukuplah dengan menghafal teori dan dia kerap kali terkeliru dengannya. Memang sepatutnya agama itu bukannya pelajaran teori. Tetapi pelajaran yang harus hadir bersama akal dan hati. Perlu dihayati dan diamalkan.
"Umi...Cahaya tak pernah solat. Bukankah solat itu dilakukan bagi yang bersedia sahaja?"
"Masya Allah...bila agaknya Cahaya rasa bersedia untuk solat?"
"Entah...Cahaya tidak pandai solat umi. Selama ni Cahaya tidak pernah diajak ataupun disuruh solat. Tapi Cahaya tahu Cahaya orang Islam. Cahaya tahu ucap syahadah."
"Islam bukan hanya pada mengucap syahadah, tapi mengamalkan maksud disebalik syahadah tu. Tapi Umi tak salahkan kamu...sekarang ni Cahaya belajar dengan umi, ya? Kita belajar perlahan-lahan."
Cahaya menganguk dan tidak semena-mena tangisan keluar dari matanya. Umi didakapnya sebak. Di mana lagi harus aku cari insan yang tidak mempertikaikan kejahilan dalam dirinya dan terus memandangnya sebagai hamba Allah yang benar-benar memerlukan hidayah. Ya Allah...sesungguhnya semua ini mempunyai hikmah.
*****
Usai solat maghrib berjemaah berimamkan Adam, Cahaya mengambil masa untuk membaca Tafsir Al-Quran milik Adam di atas meja bilik itu. Dia masuk ke dalam bilik dan mula membaca Tafsir Al-Quran tersebut.
Bacaan surah Al-Insyirah dibacanya walaupun masih tersekat-sekat. Diulangi dan dibacanya lagi secara perlahan-lahan. Sehingga ayat 5 dan 6.
"Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Bacaan cahaya terhenti sebentar. Mengamati makna bacaan surah Insyirah. Hatinya tiba-tiba sahaja diruntun kesedihan yang teramat. Lantas diulang ayat 5 dan ayat 6 itu diiringi tangisan kecil. Setelah itu, disudahkan bacaan dengan bacaan Al-fatihah dan selawat nabi yang diajarkan umi kepadanya. Perlahan-lahan kitab kecil itu ditutup, diangkat dan dicium ke dahi. Telekungnya bertemankan air mata pada malam itu. Ayat itu benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Membelai hatinya yang gelisah. Lantas dia keluar dari bilik menuju ke ruang tamu.
Adam dilihat termenung memandang skrin komputer riba di hadapan sambil Aiman khusyuk membuat kerja sekolahnya. Cahaya perlahan melangkah membawa kandungan yang telah berusia empat bulan. Dia duduk di kerusi hujung. Jauh sedepa dari Adam.
"Eh, Cahaya? Tak tidur lagi ke?"
"Tak mengantuk lagi." Cahaya mencari kelibat umi. Mungkin sudah masuk tidur agaknya.
"Awak nak guna tak?"
Ujar Adam sambil menunjukkan komputer ribanya. Lantas dia memberi ruang dan duduk di kerusi sebelah Aiman. Cahaya sekadar menggeleng.
"Takpe...awak gunalah dulu, saya ke dapur buat air. Awak nak minum air Milo tak?"
"Eh, tak perlulah susah-susah. Saya boleh buat sendiri."
"Tak pe, tak susah pun, cuma letak Milo, gula dan bancuh air panas. Siap. Senang je kan?"
Cahaya tergelak kecil mendengar jawapan Adam. Aiman pula mengangkat muka memandang wajah abangnya.
"Abang...air Milo satu lagi untuk Aiman."
"Amboi! nak jugak. Baiklah Man..." Aiman tersenyum manis. Cahaya mula mengangkat tubuhnya dan duduk menghadap skrin komputer riba Adam. Kelihatan laman sosial 'Facebook' dan profil milik Adam terpampang di skrin. Satu persatu dibacanya. Adam Hafizy. Gambar anak palestin dijadikan gambar profil. Lantas matanya beralih ke status Adam.
'Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (At-Tagaabun:11)
Indah. Terlalu indah ayat Al-Quran yang menjadi status Adam di saat itu. Hatinya terus melagukan zikir.
Sebak di dada Cahaya sehingga matanya mula digenangi titisan berkaca. Semua yang berlaku dengan izin Allah atas kelemahan dirinya. Betapa sebelum ini dia buta pada syahadah yang dilafaznya. Betapa rugi dirinya tidak mengenal 'alif ba ta' pada usia muda. Betapa malang dirinya menggadaikan cinta pada nafsu dunia.
Astaghfirullahal'azim..ampunkan hambaMu ya Allah..
"Ini air Milo untuk awak dan ini untuk Aiman. Tapi Aiman siapkan dulu kerja sekolah tu."
Air Milo panas diletakkan atas meja makan yang jauh sedikit dari ruang tamu. Adam duduk di situ sambil memerhatikan Cahaya dari jauh.
"Terima kasih, abang." Ujar Aiman sambil matanya tidak lari dari buku teks sekolah di hadapannya. Dia begitu leka menulis.
Cahaya berdiri dan duduk berhadapan dengan Adam.
"Terima kasih, awak." Suara Cahaya perlahan keluar di bibirnya. Membaca basmallah dan menghirup air Milo panas. Adam hanya tersenyum dan turut meneguk minumannya.
"Cahaya ada facebook tak?"
"Ada." Jawab Cahaya. Pendek.
"Cahaya add la saya..log out je account saya tu."
"Awak tak nak guna ke?"
"Takpe...saya memang nak biar awak guna. Takut awak bosan nanti, pergilah."
Kalau boleh biarlah Cahaya duduk sahaja di situ. Bukan apa, dia sememangnya hilang minat untuk melayari laman sosial 'Facebook'. Tapi disebabkan Adam mahu dirinya di tambah sebagai rakan, terbuka juga langkah dan niatnya untuk mengemaskini akaun profil laman sosial itu.
Sebaik sahaja log in ke akaun Cahaya berjaya, terpampang gambar dirinya dan Adi tersenyum berpegangan tangan bersama. Hatinya terasa seperti dicucuk besi panas. Sakit hatinya apabila melihat profil dihadapannya. Dengan segera dia memadam semua album lama bersama Adi, dan menukar gambar profilnya kepada apa-apa sahaja gambar simpanan Adam di komputer riba itu. Kalau gambar bunga atau gunung sekalipun dia tidak kisah. Biarlah...Asalkan bukan gambar jantan tak berhati perut itu. Setelah itu dia menghilangkan kewujudan 'jantan' itu dari senarai rakannya. Puas...
Biar sejarah itu terpadam di ingatan dan di mana-mana sahaja. Mengingatinya menambahkan lagi rasa benci di hati, menghilangkan ketenangan dalam diri. Dia mahu segera melupakan ingatan pahit yang pernah hadir dalam hidupnya.
Kali ini bibirnya mengukir senyuman. Senyuman kemenangan apadila berjaya membersihkan memori hitam daripada profilnya. Lahirlah Cahaya yang baru. Cahaya Danisha. Status...single, tag pada profilnya 'Islam is the light'.Statusnya:
"Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(Al-Insyirah )"
Bibirnya tersenyum lagi. Surah Al-Insyirah ayat 5 dan ayat 6 itu menjadi status pada halamannya. Sungguh, dia benar-benar cintakan ayat daripada kalam suci Al-Quran. Matanya beralih sebentar melihat kelibat Adam yang duduk di meja makan, Adam begitu khusyuk dengan buku di tangannya. Entah buku tebal apakah yang dipegangnya. Lantas pandangan dialihkan pula pada Aiman yang kini sedang menikmati air Milo.Tentu kerja sekolahnya sudah siap. Terleka benar dia dengan facebook ini. Hilang mengantuk dibuatnya. Patutlah remaja sekarang aktif dengan laman sosial paling popular ini. Malah mereka menganggapnya sebagai 'open diary' hidup mereka.
Tiba-tiba, idea menjelma saat terpandang Adam tadi. Lantas jarinya menekan satu klik pada butang mesej. Jarinya ligat menekan kekunci huruf dan membentuk ayat. Mengamati sepenuh hatinya dan menekan butang 'hantar'. Sesudah itu, dia kembali ke meja makan dan duduk kembali bersama Adam dan Aiman. Bertiga.
"Abang, esok abang nak pergi pukul berapa?" Soal Aiman dan memandang ke arah Adam. Cahaya kembali menikmati minuman kegemarannya. Adam menutup buku tebal itu dan menandakan dengan sekeping kertas biru.
"Awal sikit la. Jam 8."
"Pergi mana?" Tanya Cahaya ingin tahu.
"Abang Adam balik KL. Abang kerja kat sana. Cuti sebulan abang dah habis. Dua minggu sekali baru balik kampung. Kadang-kadang, dalam sebulan tiga kali." Adam mengiyakan jawapan Aiman.
"Oh..kerja." 'Kerja apalah agaknya?' Hati Cahaya tertanya-tanya.
"Alhamdulillah, saya kerja biasa je Cahaya. Pensyarah." Ujar Adam sekali gus menjawab pertanyaan Cahaya yang tidak terlahir pada bibir.
"Alhamdulillah..baguslah tu awak. Tak macam saya,belajar sampai ijazah pun masih tak ada kerja. Selama ni terlalu berharap sangat dengan family."
"Wah..takpe la, InsyaAllah...awak akan dapat kerja yang baik Cahaya. Dulu awak ambil bidang apa?"
"Lebih kepada business."
"Nabi kita kata, 9/10 rezeki datang daripada perniagaan."
"Insya Allah, kalau cukup modal lebih baik buka perniagaan sendiri. Dapatlah berikan kehidupan yang baik buat anak-anak nanti."
"Ya. InsyaAllah. Eh,awak dah tak nak guna ke?" Adam menuding jari ke arah komputer ribanya.
"Takpelah..lagipun saya nak berehat."
"Baiklah...Aiman, kamu pun dah boleh masuk tidur, jangan lupa ambil wudhu sebelum tidur."
Mata Aiman kecil sedikit. Mengantuk. Cahaya pula berdiri dan mengangkat cawan-cawan kosong untuk dicuci. Itulah kebiasaan anak-anak umi. Berwudhu' sebelum tidur. Pesanan umi itu turut disemai dalam hatinya. Kata umi, selain membersihkan diri, wudhu' juga boleh membersihkan jiwa. Ketenangan akan terasa semasa tidur, kita akan sentiasa mengingati Allah dan mudah untuk memujinya. Dapatlah menghindari tidur dengan hati yang lalai.
"Cahaya, takpe...biar saya yang buat. Awak pergilah berehat." Adam mengambil kesemua cawan yang diangkat Cahaya tadi dan terus menuju ke dapur. Cahaya terkaku sebentar.
'Semoga Allah merahmatimu Adam, kau terlalu baik dengan insan jahil seperti aku'. bisik hati Cahaya lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
*****
Sunyi.
Adam kembali pada komputer ribanya. Dia masuk ke halaman facebook miliknya. Tertera satu 'permintaan menjadi rakan' dan satu mesej. Dia terlebih dahulu menekan butang bersetuju meneriman Cahaya Danisha menjadi rakan. Jarinya membuka profil Cahaya Danisha. Cantik namanya, puji naluri Adam. Bibirnya tersenyum panjang saat melihat gambar profil Cahaya yang merupakan gambar 'bunga teratai' yang tentunya dimuat turun dari fail 'my pictures' yang terdapat di dalamkomputer ribanya. Tentu dia menukar gambar profilnya tadi. Lantas dia memberikan cadangan gambar anak perempuan palestin berhijab sambil tangannya memegang senjata sebagai ganti gambar teratai yang agak umum itu. Dia teringat kembali peti masuknya. Dia membuka mesej yang datang dari...
Cahaya? Dia menoleh ke arah meja makan, melihat tempat dimana Cahaya duduk tadi. Ah, kenapa dia tidak bersuara sahaja, tidak perlulah menghantar mesej! Matanya kembali menatap mesej ringkas itu.
Assalamualaikum,
Tentu awak terkejut sebab saya hantar mesej kat awak. Kadang-kadang sesuatu yang jauh dari dasar hati, walaupun terbit daripada emosi, tapi sukar diluahkan dengan kata-kata. Sepanjang sebulan bersama awak,umi dan Aiman.Alhamdulillah...
Saya bersyukur sangat kerana emosi dan jiwa saya dibalut dengan ketenangan. Ketenangan yang tidak sama dengan hidup berbalut kemewahan, takkan sama dengan kebahagiaan yang lain. Tapi, jauh di sudut hati...saya belum pernah menyatakan kemaafan saya atas kekasaran kata-kata saya sebulan lepas.
Benar, betapa kejahilan yang mendalam menyelubungi saya pada masa itu. Kalau bukan kerana Allah utuskan awak menyelamatkan pendosa yang hina ini,tenggelam dan lemas dalam nafsu dunia, tak mungkin saya masih bernyawa sehingga ke hari ini. Mulanya saya sememangnya tidak lagi redha atas kewujudan bayi ini, tapi Alhamdulillah... Syahadah jugalah yang menyelamatkan saya. InsyaAllah, walau apapun berlaku, saya akan tetap menyayangi anak yang akan lahir dari rahim ni. InsyaAllah... Saya yakin akan apa jua yang berlaku semuanya mempunyai hikmah. Kehidupanlah yang mengajar dan yang tersasar akan diberi pengajaran agar tetap pada jalanNya.
Ucapan terima kasih yang tidak terhingga buat keluarga awak. Tentu umi sangat bangga mendapat anak sebaik Adam dan Aiman. Doakan saya supaya terus membuat kebahagiaan dunia akhirat. Sekali lagi saya memohon maaf atas kejahilan saya.
(Malah bilik awak pun dah diceroboh orang asing seperti saya. Saya minta maaf banyak-banyak.)
Salam Maaf.
Adam mengetap bibir. Sedikit pun tidak ada kesalahan yang dilakukan Cahaya padanya. Malah dia tidak memandang Cahaya pada masa lalunya, tetapi dia melihat Cahaya itu pada ketabahannya meneruskan kehidupan. Pada cintanya yang mengejar Cinta Illahi. Pada rindunya yang bersinar saat melagukan zikir dan selawat. Ketenangan yang tetap dirasai pada sesiapa sahaja yang memandang Cahaya. Teduh wajah Cahaya disirami sopan bicaranya. Jauh berbeza dengan Cahaya yang ditemuinya di pantai sebulan lalu. Subhanallah, sesungguhnya kuasa Allah tiada batasnya. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Gadis yang mahu membunuh diri dan jiwanya itu kini amat menyintai tarbiyah daripada Allah.
*****
Matanya memandang beg berisi komputer riba di hadapannya. Melayani kebosanan yang mula bertapak, dia memasang komputer riba dan melayari internet melalui wireless di rumah. Membuka email yang semalam telah pun dikemaskini. Terdapat sepuluh email yang belum dibaca. Semuanya dari laman social yang popular itu. Satu persatu dibuka.
Terdapat dua mesej tertera di Facebooknya. Satu daripada sahabat lamanya, Dayana dan satu lagi tentu balasan mesej daripada Adam. Dia menukar gambar profilnya kepada gambar anak palestin yang dicadangkan oleh Adam. Cantik dan sayu. Tapi Cahaya suka dengan gambar barunya.
Email yang lain dibiarkannya. Mesej dari Dayana dibuka dan dibaca teliti.
Salam Caya..
Ke mana kau menghilang?? Dah lama tak nampak kau. At least tell me where are you now. Kau tahu kan aku risau sangat dengan kau, Caya. Aku dapat tahu yang kau dihalau keluar dari rumah, adik kau yang beritahu aku. Adi sekarang pula dengan perempuan lain, kau kenal Nadia kan? Ha..sekarang diorang dah couple!! Tak sangka Nadia yang kita percaya tu tikam kau dari belakang. Benci! Perempuan tak guna! Kalau kau baca mesej ni please reply as soon as possible. Aku sedia bantu kau. Biar kita balas perempuan tu.
Cahaya membalas mesej dari Dayana. Entah kenapa, tidak terbit langsung rasa benci dalam hatinya di saat mengetahui Nadia menggantikan tempatnya sebagai kekasih Adi. Malah, dia memanjatkan rasa syukur yang teramat kerana terlepas dari 'buaya darat' itu, walaupun sepatutnya Adi bertanggungjawab dengan anak yang dikandungnya. Tetapi kini, harapan itu telah lama terkubur. Biarlah, dia lebih rela membesarkan anak ini sendirian. Selesai menghantar balasan, Cahaya segera membuka mesej dari Adam.
Waalaikumussalam..
Cahaya...saya tahu awak pun akan terkejut sebab saya biarkan laptop ni untuk kegunaan awak. Saya risau awak bosan bila tak buat apa-apa. Saya dah sediakan buku atas meja bilik tu. Harap awak sudi membacanya. Umi tak nak awak terlalu banyak bergerak,sebab tu kalau ada buku dan laptop ni sedikit sebanyak dapat hilangkan boring.
Cahaya...Saya sangat suka dengan nama awak yang unik. Sepanjang mana pun sebutan 'cahaya' tapi saya suka. Eh, dah lari tajuk pula, hihi.. Tentang kejadian di pantai dulu, semuanya berlaku atas izin Allah. Tidak tersimpan sedikit marah atau dendam pun tentang awak. Tiada apa yang perlu dimaafkan. Awak pun sedikit sebanyak mengajar saya tentang kehidupan. Ketabahan awak sukar ditemui.
Cahaya...Terjaga dari tidur tidak sama dengan terjaga dari mimpi. Jika terjaga dari tidur, kita akan bangun dan tidak merasakan sesuatu seperti terjaga dari mimpi. Kita seakan dikejutkan dan diminta bermuhasabah diri. Andai mimpi itu mimpi buruk, kita pasti beristighfar dan mencari nilainya yang positif. Andai terjaga dari mimpi indah kita akan bersyukur dan berharap tidak akan terleka darinya. Sesungguhnya hidayah itu milik Allah... Dia memberikan kepada sesiapa sahaja yang dikehendakinya. Bersabar dan pasti kita akan menemui ganjarannya.
Cahaya...untuk pengetahuan awak. Kehadiran awak di rumah serba sederhana dan penerimaan awak pada kesederhanaan itu cukup bermakna buat kami. Sedikit sebanyak kehadiran Cahaya memberi nafas baru buat kami. Malah umi selalu memuji Cahaya pada Adam. Kesungguhan awak mendekati ilmu agama benar-benar dikaguminya. Lihat sahaja diluar sana, berapa orang yang akan bangkit selepas dilanda musibah dan ujian dari Allah? Malah terlalu sedikit yang mahu bersyukur dan kembali ke jalan yang benar. Sedangkan pintu taubat masih terbuka, kemaafan Allah lebih besar dari segala dosa di muka bumi. Subhanallah..
Cahaya... Awak tak perlulah rasa bersalah. Awak bukan menceroboh bilik tu, saya dengan rela hati beri bilik tu kat awak. Harap dapat beri sedikit keselesaan dengan bilik yang tak seberapa. Lagipun awak bukannya orang asing. Selagimana kita seagama, kita adalah saudara. Jangan lupa add ym saya. Adam_Hafizy86@yahoo.com. Kelak kita boleh bicara lebih panjang. Saya dah titipkan pesanan pada Aiman, kalau awak nak Milo atau apa-apa, awak boleh minta tolong kat adik comel kita, Aiman. Jaga diri baik-baik.
Salam ukhwah Cahaya.
Cahaya tersenyum dan tertawa dalam tangisan. Sempat juga Adam ingat tentang 'air Milo' minuman kegemarannya.
Adam...Adam...Tanpa kehadiran awak di rumah ni pun awak masih mampu membuat Cahaya tersenyum. 'Hebat betul aura awak Adam!'
Cahaya bergegas bangun dan menuju ke ruang kamar, terasa ingin tahu yang membuak-buak di dadanya. Buku apakah yang ditinggalkan Adam buatnya? Pandangan tertumpu pada buku itu. Buku tebal?
Ya...buku tebal yang berwarna biru. Buku yang dibaca oleh Adam semalam, baru kini dia melihatnya dengan jelas judul bukunya. 'La Tahzan' Jangan bersedih. Buku yang benar-benar menarik hati. Diselaknya perlahan. Tertera sedikit tulisan tangan dari Adam.
~Khas buat Cahaya yang kami sayangi
La Tahzan..Sesungguhnya Allah bersama kita
Cahaya terharu. Dipeluk buku itu ke dadanya. Hatinya benar-benar terusik. Titisan jernih mengalir lagi.
"Alhamdulillah..Alhamdulillah...Allah bersamaku." Sebutnya dalam sebak.
*****
Aku Cuma An-Nisaa
Ya Allah..
Jadikan aku tabah seperti Ummu Khadijah
Sehingga dirinya digelar afifah solehah
Dialah wanita pertama
Tiada ragu mengucap syahadah
Pengorbanan bersama Rasulullah
Susah senang bersama
Walau hilang harta kerana berdakwah
Walau dipulau 3 tahun 3 bulan
Imannya sedikit pun tak berubah
Mampukah aku setabah dirinya?
Andai diuji sedikit sudah rebah..
Baru dihina sudah mengalah
Ya Allah..tabahkan aku sepertinya..
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Fatimah Az-Zahrah
Betapa tinggi kasihnya pada ayahandanya
Tidak pernah putus asa pada perjuangan dakwah baginda
Anak yang semulia peribadi baginda
Tangannya lah yang membersihkan luka
Tangannya jua yang membersihkan cela
Pada jasad Rasulullah tercinta
Gagahnya dirinya pada dugaan
Mampukah aku sekuat Fatimah?
Saat diri terluka dendam pula menyapa
Saat disakiti maki pula mengganti
Ya Rabbi..teguhkan hatiku sepertinya..
Ya Allah..
Jadikan aku sehebat Masyitah dan Sumaiyah
Tukang sisir yang beriman
dan Keluarga Yasir yang bertakwa
Sungguh kesabaran mereka menggoncang dunia
Iman tetap terpelihara walau nyawa jadi taruhan
Mampukah sabarku seperti mereka?
Tatkala digoda nafsu dunia..
Entah mana hilangnya Iman di dada
Ya Rahman..
Kuatkan Imanku seperti Masyitah
Terjun penuh yakin bersama bayi ke kuali mendidih
Kerana yakin Allah pasti disisi
Sabarkan aku seperti sumaiyah
Biar tombak menusuk jasad..
Iman sedikit pun takkan rapuh.
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Ummu Sulaim
Perkahwinannya dengan Abu Talhah atas mahar Iman
Islamlah Abu Talhah sehingga menjadi sahabat Rasulullah
Betapa hebatnya tarbiyyah isteri pada suami
Hinggakan segala panahan ke Rasulullah pada hari uhud
Disambut dengan belakang jasad Abu Talhah
Ya Allah..
Tarbiyyahkan aku pada cinta sepertinya
Tingginya nilai cinta pada harga Iman
Mampukah aku menatap cinta itu?
Sedangkan rupa yang menjadi pilihan
Ketulusan Iman diketepikan
Ya Allah..
Ilhamkan aku pada cinta sepertinya..
Ya Allah...
Jadikan aku sehebat Aisya Humaira
Isteri termuda Rasulullah
Biar dilempar fitnah
Dia tetap teguh pada ketetapanNya
Isteri sejati yang memangku Nabi
Pada saat terakhir baginda
Hadis dan Sunnah Rasulullah dipertahankan
Betapa hatimu seorang mujahidah
Ya Allah..
Mampukah aku contohi dirinya?
Pada fitnah yang melanda
Diri mula goyah dan putus asa
Teguhkan Imanku sepertinya..Ya Rahim..
Ya Allah..
Teringat diri pada Khansa
Empat orang anaknya mati di Jalan ALLAH
Dia meratap tangis..
Anak sulungnya syahid
Anak keduanya turut syahid
Anak ketiganya dan keempat jua mati syahid
Namun tangisan itu bukan kerana pemergian anak tercinta
Jawabnya kerana tiada lagi anak yang dihantar untuk berjihad
Ya Allah..
Mampukah aku menjadi ibu yang berjihad?
Sedang anak tak tutup aurat pun masih tak terjawab
Sedang anak tinggal solat pun buat tak kisah
Berikan aku kekuatan sepertinya..
Agar bersedia pada akhirat.
Wahai kaum Adam yang bergelar khalifah..
Diriku bukan setabah Ummu Khadijah
Bukan jua semulia Fatimah Az-Zahrah
Apa lagi sesabar Masyitah dan Sumaiyah
Mahupun sehebat Ummu Sulaim
Dan tidak seteguh Aisya Humaira
Kerana diri cuma An-Nisaa akhir zaman
Dimana Aurat semakin dibuka terdedah
Dimana syahadah hanya pada nama
Dimana Dunia yang terus dipuja
Dimana nafsu fana menjadi santapan utama
Dimana batas sentiasa dileraikan
Dimana ukhwah sentiasa dipinggirkan
Wahai Kaum Hawa
Kita cuma An-Nisaa
Para pendosa yang terbanyak di neraka
Lantas walau tak setabah para Mujahidah
Namun Tabahlah pada ketetapan Allah
Kerana padanya ada Syurga!
Walau tak semulia para wanita sirah
Tapi muliakan diri dengan agama yang memelihara
kerana padanya ada Pahala!
Walau tak sesabar para wanita solehah
Namun sabarkan jiwa pada nafsu dunia yang menyeksa
Kerana padanya ada bahagia!
Sesungguhnya Hawa tercipta dari Tulang rusuk kaum Adam
Bukan untuk ditindas kerana lemah
Tapi untuk dilindungi kerana Indah
dan Indah apabila tertutup terpelihara
Kerana disitulah terjaganya Syahadah
Bak mekarnya wanita dalam sirah
Tuntunlah kami ke arah syurga..
Bicara dari An-Nisaa yang hina..
Makbulkan doaku..
Aamiin..
*****
"Setiap kejadian yang berlaku pasti ada hikmahnya, sesuatu yang baik belum tentu berakhir dengan baik. Begitu juga sesuatu yang buruk belum tentu berakhir dengan derita. Apa yang penting ialah tanamkan cinta pada Allah, pada jalanNya. Keyakinan pada Allah harus melebihi daripada keyakinan kita pada diri sendiri, malah pada orang lain. Memanglah mudah untuk kita berkata dan payah untuk melakukan. Memanglah mudah untuk jatuh rebah dan susah untuk bangun kembali. Memanglah mudah untuk berbuat amal tetapi payah pada istiqamah. InsyaAllah, semuanya terletak pada kekuatan hati yang turut dipandu oleh akal kita. Akal yang bertunjangkan iman dan ilmu. Kita sering berbicara tentang taubat dan bila masa sesuai untuk dilakukan. Seandainya rasa cinta itu wujud, pasti akan ada jiwa hamba yang rindu beramal dengan Maha pencipta. Lihat sahaja pada nadi, selagi nadi berdenyut, selagi nafas menghembus, pintu taubat masih terbuka buat hambaNya. Tetapi kesombongan kita yang membawa kita malu untuk bertaubat pada hari ini. Keegoan kita yang menarik kita untuk bertangguh pada hari esok, kejahilan kita yang membuat kita berfikir akan selalunya ada hari esok. Seandainya dosa itu dapat dilihat, pasti kita dipenuhi dengan noda. Seandainya pahala itu dapat dilihat, pasti diri dikabus dengan riak. Para pencinta Illahi itu pemalu, malu menzalimi diri yang hanya pinjaman dari Nya. Para pencinta jihad fisabilillah itu penakut, penakut pada mati tanpa berjuang menegakkan agama Allah. Para pejuang syahid itu pengecut, pengecut kepada mati tanpa mengingati Allah."
Panjang bicara Cahaya pada petang itu sempena undangan sahabat baiknya, Damia. Pertemuan di atas takdir Allah telah menyatukan minat mereka untuk bersatu dalam jihad.
Cahaya turut menguruskan butik dan kadangkala meluangkan masa untuk hobinya yang minat dalam bidang penulisan. Sebuah novel bertajuk 'Nafas cinta Insyirah' berjaya diterbitkan dengan izin Allah dan diedarkan secara percuma kepada penghuni Rumah Annisa. Malah hasil keuntungannya akan diberikan separuh kepada rumah perlindungan Annisa. Terbit kukuh di dalam hatinya, jihad untuk memperbaiki diri sendiri dan jihad untuk memperjuangkan jalan mencari cinta Allah.
Insyirah... Cinta kali pertamanya pada kalamullah surah Insyirah dan kemudian dipilih sebagai nama anak perempuannya. Adam yang duduk di hujung dewan setia menanti isterinya selesai sesi usrah dengan penghuni rumah kedua mereka, Baitul Annisa.
"Bantu-membantu lah antara kamu atas urusan kebaikan dan taqwa, dan jangan lah pula kamu bersubahat membantu dalam urusan dosa, keji dan permusuhan.(Al-Maidah : 2)
Dan Saidina Ali bin Abu Talib pula pernah berkata :
"Kadang-kadang dibuka bagimu pintu taat & tidak dibuka bagimu pintu penerimaan. Di kala yang lain pula ditakdirkan bagi engkau perbuatan maksiat,tetapi hal itu merupakan jalan bagimu untuk sampai (kepada kebaikan). Perbuatan maksiat yang menimbulkan perasaan bersalah & menyesal lebih dari perbuatan taat yang menimbulkan perasaan takbur & angkuh. (Ibnu Athaillah)..
Sekalung jutaan kesyukuran, Alhamdulillah..buat suami tercinta Adam Hafizy dan anak tersayang, Insyirah serta umi dan keluarga. Papa dan Mama yang sentiasa mekar dalam doa."
Ucap Cahaya sebelum menutup usrah pada petang itu dengan bacaan doa dan selawat sambil matanya mengerling dan tersenyum memandang anak dan suaminya dari jauh.
- Artikel iluvislam.com
Berdiri di sebelahnya seorang lelaki yang mengekori setiap langkah anak kecil di hadapannya. Mungkinkah ayahnya? Tapi masakan terlalu muda? Mungkin juga abang kepada anak comel itu? Mungkin...
Ah, tidak semena-mena tangisan membasahi wajah Cahaya. Lantas pandangan dijatuhkan pada perutnya yang ditutupi baju labuh, kian membesar setiap waktu. Tidak berayah, tiada siapa, kecuali Cahaya yang putus asa. Airmatanya mengalir deras, jantungnya berdegup kencang. Kakinya lantas mengorak langkah dan terus mara setapak demi setapak.
"Adi, you dah janji nak kahwin dengan I ? Takkan you nak biar I macam ni?"
"Hey perempuan.. aku nak letak muka aku kat mana kalau aku kahwin dengan kau? Entah-entah dia bukan anak aku.. entah jantan mana punya pasal aku pula jadi mangsa."
"Sumpah Adi, I tak pernah buat kat orang lain. Apa ni? Mana janji-janji you selama ni? Gara-gara you, I pregnant sampai dibuang keluarga. Gara-gara I cintakan you lah I jadi macam ni."
"Oh... kau ingat bila keluarga kau dah buang kau, kau boleh suka-suka tinggal dengan aku? Sorry... aku pun tak nak nasib sama dengan kau.. aku masih muda lah Cahaya. Takkan aku nak jaga anak pulak?"
"So, you memang tak cintakan I lah? Selama ni you just main-mainkan I?"
"Bukannya masalah aku... kau yang terlalu percaya sangat. Dasar perempuan murah."
"Apa you kata? Eh,Adi...sedarlah diri sikit, kalau you kata I perempuan murahan, you pun lelaki murahan, takde beza."
"Baguslah kalau kau dah kata macam tu.. sebab lelaki yang kau kata murahan ni langsung takde hati kat perempuan murahan macam kau. Sekarang baik kau pergi mampus dengan anak sialan kau tu."
"You yang bawa sial kat I. Kurang ajar punya jantan. You dah musnahkan hidup I. Bodoh!"
Kereta dipacu laju dan meninggalkan Cahaya yang terkulai dengan seribu tangisan. Peristiwa yang baru beberapa jam berlalu, masih terasa bahangnya dalam jiwa. Gejolak dalam hatinya tiada siapa yang peduli. Papa?Mama?Ah...semuanya meninggalkannya terkapai-kapai lemas dalam luka yang ditanggungnya. Penyesalan yang kini memakan dirinya. Kini, hanya ditemani denyutan bayi yang tidak diminta hadirnya.
Langkahnya terus mara melangkah setapak ke hadapan, ditemani bayi hasil daripada taburan janji cinta palsu lelaki hipokrit. Mara setapak lagi dan kini air mula membasahi separuh betisnya. Tangisan dan sedu terus mengiringi aturan langkahnya . Semakin lama jasadnya dibasahi air mata dan menenggelami lebih separuh tubuhnya. Nyawanya kini bagai tiada nilai. Kini yang ada di sudut jiwa dan fikiran hanyalah mahu menemui kematian. Biar laut menjadi saksi kedukaan sang pencinta yang berdosa. Biarlah laut melemaskan jasadnya sebagaimana cinta melemaskan seluruh jiwanya. Cahaya memejamkan mata.
'Tiada gunanya hidup lagi anakku, saat dunia membenci kehadiranmu. Maafkan ibu.'
Cahaya menarik nafas sedalam-dalamnya dan berharap nafas itulah yang menjadi titik noktah dalam hidupnya. Biarlah aku pergi...
Pergi dari kelukaan...
Pergi dari semuanya...
Tiba-tiba tubuhnya disentap dari belakang dan ditarik keluar dari isi lautan, tidak semena-mena dia terbaring di tepi pantai. Cahaya bernafas tercungap-cungap. Sementara lelaki yang basah kuyup dihadapannya memandangnya dengan pandangan tajam. Titisan air dari rambutnya masih menitis dan jasadnya benar-benar bermandikan air laut petang itu. Kenapa saat-saat dia mahu membunuh diri pun masih ada halangan yang menerpa?
"Awak, banyak lagi cara lain nak selesaikan masalah, tapi bukan dengan cara ni. Awak patut fikir kesihatan bayi dalam kandungan awak tu. Jangan kerana kebodohan awak, anak yang tak bersalah pun menanggung sama."
Suara yang dilontarkan dari bibir pemuda itu menambahkan lagi hirisan luka dalam jiwanya. Jeritannya yang berbaur kemarahan tetapi masih berlapiskan kesedaran.
"Senanglah awak cakap, bukan awak yang menanggungnya. Saya yang rasa, saya yang merasai kesakitan ni, saya dah tak ada sesiapa lagi, jadi apa bezanya kalau mati sekalipun?" Bentakku melontarkan rasa yang terpendam di hati. Perkataan 'mati' itu sengaja ditekankan sebutannya.
"Ya...saya faham. Saya tak rasa semua kesakitan awak, tapi saya dapat rasakan kesedihan anak yang awak kandung tu. Allah dah berikan dia nadi dan kasih sayang dari awak, tapi ibunya sendiri yang ingin membunuhnya. Anak mana yang mampu terima semua tu? Awak silap kalau awak rasa mati lebih baik."
"Huh...awak ingat saya kisah semua tu? Pergi jahanamlah ceramah awak tu."
"Saudari, saya tiada niat sedikit pun nak menzalimi saudari, niat saya cuma nak membantu. Seandainya awak menolak niat baik saya, sekurang-kurangnya benarkan anak dalam kandungan tu menerimanya. Itu saja saya mahukan daripada awak."
"Kenapa awak ambil peduli dengan anak dalam kandungan ni? Awak bukan ayahnya. Ayahnya sendiri tidak mengaku, apa lagi orang luar yang baru saya kenali? Lagipun, untuk pengetahuan awak...bayi dalam kandungan ni anak yang akan lahir tanpa perkahwinan yang sah. Orang kata anak haram. Melahirkan anak ni samalah menambahkan lagi kedukaan kepada anak ni."
"Anak dalam kandungan tu tak bersalah. Anak tu tetap lahir dalam keadaan suci. Bertaubatlah saudari, Allah masih memberi kasih sayangnya dengan memberikan awak nyawa untuk terus hidup dan nafas untuk terus kekal dalam dunia yang sementara ni. Saya peduli anak tu sebab..."
Katanya terhenti di situ. Cahaya mengangkat kening meminta kata-kata lelaki itu diteruskan. Dia mula meragui keikhlasan lelaki dihadapannya. Malangnya, ketika itu muncul kelibat budak lelaki comel tadi menerpa ke arah lelaki itu dan memegang erat tangannya. Mata budak itu merenung Cahaya. Renungan yang menghantar rasa sebak di ruang hati Cahaya.
"Abang tak nak ajak kakak ni balik sama ke? Kesian dia bang...jom la kita balik, nanti umi marah pula."
Gesa budak itu sambil terus menarik tangan Cahaya. Saat itu Cahaya hanya mampu menurut, terdiam dan terpana dengan tindakan anak kecil itu. Budak lelaki itu terus tersenyum sambil kedua-dua belah tangannya berpaut pada genggaman tangan Cahaya dan lelaki tadi. Cahaya terkedu namun membiarkan sahaja langkahnya menuruti mereka.
*****
Niatnya untuk menyatakan kemaafan pada lelaki itu terpadam lagi. Kelibat lelaki itu tidak kelihatan di rumah. Kemana agaknya Adam dan Aiman pergi saat-saat malam begini? Cahaya resah. Dirinya tidak dapat duduk betah. Sekejap menghadap ke kiri, sekejap menghadap ke kanan. Sekejap bangun menuju ke pintu dan sekejap lagi dia duduk kembali ke katil. Tanpa disedarinya tingkah lakunya diperhatikan umi.
"Kenapa nak? Tak selesa ke?" Umi yang bertelekung duduk di sisi Cahaya.
"Tak de la makcik. Bukan macam tu.." Bagaimana harus ku luahkan pada Umi tentang niatku?"
"Umi lihat dari tadi Cahaya mundar mandir dalam bilik. Anak sakit?"
"Tak, makcik."
"Panggil saja umi, kan lebih senang. Ya tak ya, anak ni namanya siapa?"
"Cahaya."
"Nur ke Nurul?"
"Tak...Cahaya Danisha."
"Subhanallah, cantik nama tu. Cahaya.."
Cahaya tersenyum hambar, seakan nama itu amat bertentangan dengan dirinya yang baginya sudah kehilangan cahaya. Cahaya hidup, cahaya cinta. Kedua-duanya telah hilang cahayanya.
"Eh, kalau Cahaya nak solat, telekung ada atas meja tu. Umi dah suruh Aiman letak kat situ tadi."
"Solat? Solat apa?"
"Solat maghrib? Solat lima waktu?" Soalannya tadi dijawab dengan soalan dari umi.
'Ah, yang aku tahu cuma solat lima waktu, tapi maghrib tu solat ke berapa, niat solat, malah wudhu' pun Cahaya tidak tahu.' Cahaya tunduk dan berasa dirinya dihempap soalan yang mengunci lidahnya. Keluarganya selama ini tidak menitikberatkan soal agama. Bagi mereka syahadah itu sudah cukup membuktikan mereka Islam. Cahaya dihantar ke sekolah aliran Cina. Sekolahnya tidak mewajibkan para pelajar mendekati ilmu agama secara praktikal. Cukuplah dengan menghafal teori dan dia kerap kali terkeliru dengannya. Memang sepatutnya agama itu bukannya pelajaran teori. Tetapi pelajaran yang harus hadir bersama akal dan hati. Perlu dihayati dan diamalkan.
"Umi...Cahaya tak pernah solat. Bukankah solat itu dilakukan bagi yang bersedia sahaja?"
"Masya Allah...bila agaknya Cahaya rasa bersedia untuk solat?"
"Entah...Cahaya tidak pandai solat umi. Selama ni Cahaya tidak pernah diajak ataupun disuruh solat. Tapi Cahaya tahu Cahaya orang Islam. Cahaya tahu ucap syahadah."
"Islam bukan hanya pada mengucap syahadah, tapi mengamalkan maksud disebalik syahadah tu. Tapi Umi tak salahkan kamu...sekarang ni Cahaya belajar dengan umi, ya? Kita belajar perlahan-lahan."
Cahaya menganguk dan tidak semena-mena tangisan keluar dari matanya. Umi didakapnya sebak. Di mana lagi harus aku cari insan yang tidak mempertikaikan kejahilan dalam dirinya dan terus memandangnya sebagai hamba Allah yang benar-benar memerlukan hidayah. Ya Allah...sesungguhnya semua ini mempunyai hikmah.
*****
Usai solat maghrib berjemaah berimamkan Adam, Cahaya mengambil masa untuk membaca Tafsir Al-Quran milik Adam di atas meja bilik itu. Dia masuk ke dalam bilik dan mula membaca Tafsir Al-Quran tersebut.
Bacaan surah Al-Insyirah dibacanya walaupun masih tersekat-sekat. Diulangi dan dibacanya lagi secara perlahan-lahan. Sehingga ayat 5 dan 6.
"Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Bacaan cahaya terhenti sebentar. Mengamati makna bacaan surah Insyirah. Hatinya tiba-tiba sahaja diruntun kesedihan yang teramat. Lantas diulang ayat 5 dan ayat 6 itu diiringi tangisan kecil. Setelah itu, disudahkan bacaan dengan bacaan Al-fatihah dan selawat nabi yang diajarkan umi kepadanya. Perlahan-lahan kitab kecil itu ditutup, diangkat dan dicium ke dahi. Telekungnya bertemankan air mata pada malam itu. Ayat itu benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Membelai hatinya yang gelisah. Lantas dia keluar dari bilik menuju ke ruang tamu.
Adam dilihat termenung memandang skrin komputer riba di hadapan sambil Aiman khusyuk membuat kerja sekolahnya. Cahaya perlahan melangkah membawa kandungan yang telah berusia empat bulan. Dia duduk di kerusi hujung. Jauh sedepa dari Adam.
"Eh, Cahaya? Tak tidur lagi ke?"
"Tak mengantuk lagi." Cahaya mencari kelibat umi. Mungkin sudah masuk tidur agaknya.
"Awak nak guna tak?"
Ujar Adam sambil menunjukkan komputer ribanya. Lantas dia memberi ruang dan duduk di kerusi sebelah Aiman. Cahaya sekadar menggeleng.
"Takpe...awak gunalah dulu, saya ke dapur buat air. Awak nak minum air Milo tak?"
"Eh, tak perlulah susah-susah. Saya boleh buat sendiri."
"Tak pe, tak susah pun, cuma letak Milo, gula dan bancuh air panas. Siap. Senang je kan?"
Cahaya tergelak kecil mendengar jawapan Adam. Aiman pula mengangkat muka memandang wajah abangnya.
"Abang...air Milo satu lagi untuk Aiman."
"Amboi! nak jugak. Baiklah Man..." Aiman tersenyum manis. Cahaya mula mengangkat tubuhnya dan duduk menghadap skrin komputer riba Adam. Kelihatan laman sosial 'Facebook' dan profil milik Adam terpampang di skrin. Satu persatu dibacanya. Adam Hafizy. Gambar anak palestin dijadikan gambar profil. Lantas matanya beralih ke status Adam.
'Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (At-Tagaabun:11)
Indah. Terlalu indah ayat Al-Quran yang menjadi status Adam di saat itu. Hatinya terus melagukan zikir.
Sebak di dada Cahaya sehingga matanya mula digenangi titisan berkaca. Semua yang berlaku dengan izin Allah atas kelemahan dirinya. Betapa sebelum ini dia buta pada syahadah yang dilafaznya. Betapa rugi dirinya tidak mengenal 'alif ba ta' pada usia muda. Betapa malang dirinya menggadaikan cinta pada nafsu dunia.
Astaghfirullahal'azim..ampunkan hambaMu ya Allah..
"Ini air Milo untuk awak dan ini untuk Aiman. Tapi Aiman siapkan dulu kerja sekolah tu."
Air Milo panas diletakkan atas meja makan yang jauh sedikit dari ruang tamu. Adam duduk di situ sambil memerhatikan Cahaya dari jauh.
"Terima kasih, abang." Ujar Aiman sambil matanya tidak lari dari buku teks sekolah di hadapannya. Dia begitu leka menulis.
Cahaya berdiri dan duduk berhadapan dengan Adam.
"Terima kasih, awak." Suara Cahaya perlahan keluar di bibirnya. Membaca basmallah dan menghirup air Milo panas. Adam hanya tersenyum dan turut meneguk minumannya.
"Cahaya ada facebook tak?"
"Ada." Jawab Cahaya. Pendek.
"Cahaya add la saya..log out je account saya tu."
"Awak tak nak guna ke?"
"Takpe...saya memang nak biar awak guna. Takut awak bosan nanti, pergilah."
Kalau boleh biarlah Cahaya duduk sahaja di situ. Bukan apa, dia sememangnya hilang minat untuk melayari laman sosial 'Facebook'. Tapi disebabkan Adam mahu dirinya di tambah sebagai rakan, terbuka juga langkah dan niatnya untuk mengemaskini akaun profil laman sosial itu.
Sebaik sahaja log in ke akaun Cahaya berjaya, terpampang gambar dirinya dan Adi tersenyum berpegangan tangan bersama. Hatinya terasa seperti dicucuk besi panas. Sakit hatinya apabila melihat profil dihadapannya. Dengan segera dia memadam semua album lama bersama Adi, dan menukar gambar profilnya kepada apa-apa sahaja gambar simpanan Adam di komputer riba itu. Kalau gambar bunga atau gunung sekalipun dia tidak kisah. Biarlah...Asalkan bukan gambar jantan tak berhati perut itu. Setelah itu dia menghilangkan kewujudan 'jantan' itu dari senarai rakannya. Puas...
Biar sejarah itu terpadam di ingatan dan di mana-mana sahaja. Mengingatinya menambahkan lagi rasa benci di hati, menghilangkan ketenangan dalam diri. Dia mahu segera melupakan ingatan pahit yang pernah hadir dalam hidupnya.
Kali ini bibirnya mengukir senyuman. Senyuman kemenangan apadila berjaya membersihkan memori hitam daripada profilnya. Lahirlah Cahaya yang baru. Cahaya Danisha. Status...single, tag pada profilnya 'Islam is the light'.Statusnya:
"Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(Al-Insyirah )"
Bibirnya tersenyum lagi. Surah Al-Insyirah ayat 5 dan ayat 6 itu menjadi status pada halamannya. Sungguh, dia benar-benar cintakan ayat daripada kalam suci Al-Quran. Matanya beralih sebentar melihat kelibat Adam yang duduk di meja makan, Adam begitu khusyuk dengan buku di tangannya. Entah buku tebal apakah yang dipegangnya. Lantas pandangan dialihkan pula pada Aiman yang kini sedang menikmati air Milo.Tentu kerja sekolahnya sudah siap. Terleka benar dia dengan facebook ini. Hilang mengantuk dibuatnya. Patutlah remaja sekarang aktif dengan laman sosial paling popular ini. Malah mereka menganggapnya sebagai 'open diary' hidup mereka.
Tiba-tiba, idea menjelma saat terpandang Adam tadi. Lantas jarinya menekan satu klik pada butang mesej. Jarinya ligat menekan kekunci huruf dan membentuk ayat. Mengamati sepenuh hatinya dan menekan butang 'hantar'. Sesudah itu, dia kembali ke meja makan dan duduk kembali bersama Adam dan Aiman. Bertiga.
"Abang, esok abang nak pergi pukul berapa?" Soal Aiman dan memandang ke arah Adam. Cahaya kembali menikmati minuman kegemarannya. Adam menutup buku tebal itu dan menandakan dengan sekeping kertas biru.
"Awal sikit la. Jam 8."
"Pergi mana?" Tanya Cahaya ingin tahu.
"Abang Adam balik KL. Abang kerja kat sana. Cuti sebulan abang dah habis. Dua minggu sekali baru balik kampung. Kadang-kadang, dalam sebulan tiga kali." Adam mengiyakan jawapan Aiman.
"Oh..kerja." 'Kerja apalah agaknya?' Hati Cahaya tertanya-tanya.
"Alhamdulillah, saya kerja biasa je Cahaya. Pensyarah." Ujar Adam sekali gus menjawab pertanyaan Cahaya yang tidak terlahir pada bibir.
"Alhamdulillah..baguslah tu awak. Tak macam saya,belajar sampai ijazah pun masih tak ada kerja. Selama ni terlalu berharap sangat dengan family."
"Wah..takpe la, InsyaAllah...awak akan dapat kerja yang baik Cahaya. Dulu awak ambil bidang apa?"
"Lebih kepada business."
"Nabi kita kata, 9/10 rezeki datang daripada perniagaan."
"Insya Allah, kalau cukup modal lebih baik buka perniagaan sendiri. Dapatlah berikan kehidupan yang baik buat anak-anak nanti."
"Ya. InsyaAllah. Eh,awak dah tak nak guna ke?" Adam menuding jari ke arah komputer ribanya.
"Takpelah..lagipun saya nak berehat."
"Baiklah...Aiman, kamu pun dah boleh masuk tidur, jangan lupa ambil wudhu sebelum tidur."
Mata Aiman kecil sedikit. Mengantuk. Cahaya pula berdiri dan mengangkat cawan-cawan kosong untuk dicuci. Itulah kebiasaan anak-anak umi. Berwudhu' sebelum tidur. Pesanan umi itu turut disemai dalam hatinya. Kata umi, selain membersihkan diri, wudhu' juga boleh membersihkan jiwa. Ketenangan akan terasa semasa tidur, kita akan sentiasa mengingati Allah dan mudah untuk memujinya. Dapatlah menghindari tidur dengan hati yang lalai.
"Cahaya, takpe...biar saya yang buat. Awak pergilah berehat." Adam mengambil kesemua cawan yang diangkat Cahaya tadi dan terus menuju ke dapur. Cahaya terkaku sebentar.
'Semoga Allah merahmatimu Adam, kau terlalu baik dengan insan jahil seperti aku'. bisik hati Cahaya lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
*****
Sunyi.
Adam kembali pada komputer ribanya. Dia masuk ke halaman facebook miliknya. Tertera satu 'permintaan menjadi rakan' dan satu mesej. Dia terlebih dahulu menekan butang bersetuju meneriman Cahaya Danisha menjadi rakan. Jarinya membuka profil Cahaya Danisha. Cantik namanya, puji naluri Adam. Bibirnya tersenyum panjang saat melihat gambar profil Cahaya yang merupakan gambar 'bunga teratai' yang tentunya dimuat turun dari fail 'my pictures' yang terdapat di dalamkomputer ribanya. Tentu dia menukar gambar profilnya tadi. Lantas dia memberikan cadangan gambar anak perempuan palestin berhijab sambil tangannya memegang senjata sebagai ganti gambar teratai yang agak umum itu. Dia teringat kembali peti masuknya. Dia membuka mesej yang datang dari...
Cahaya? Dia menoleh ke arah meja makan, melihat tempat dimana Cahaya duduk tadi. Ah, kenapa dia tidak bersuara sahaja, tidak perlulah menghantar mesej! Matanya kembali menatap mesej ringkas itu.
Assalamualaikum,
Tentu awak terkejut sebab saya hantar mesej kat awak. Kadang-kadang sesuatu yang jauh dari dasar hati, walaupun terbit daripada emosi, tapi sukar diluahkan dengan kata-kata. Sepanjang sebulan bersama awak,umi dan Aiman.Alhamdulillah...
Saya bersyukur sangat kerana emosi dan jiwa saya dibalut dengan ketenangan. Ketenangan yang tidak sama dengan hidup berbalut kemewahan, takkan sama dengan kebahagiaan yang lain. Tapi, jauh di sudut hati...saya belum pernah menyatakan kemaafan saya atas kekasaran kata-kata saya sebulan lepas.
Benar, betapa kejahilan yang mendalam menyelubungi saya pada masa itu. Kalau bukan kerana Allah utuskan awak menyelamatkan pendosa yang hina ini,tenggelam dan lemas dalam nafsu dunia, tak mungkin saya masih bernyawa sehingga ke hari ini. Mulanya saya sememangnya tidak lagi redha atas kewujudan bayi ini, tapi Alhamdulillah... Syahadah jugalah yang menyelamatkan saya. InsyaAllah, walau apapun berlaku, saya akan tetap menyayangi anak yang akan lahir dari rahim ni. InsyaAllah... Saya yakin akan apa jua yang berlaku semuanya mempunyai hikmah. Kehidupanlah yang mengajar dan yang tersasar akan diberi pengajaran agar tetap pada jalanNya.
Ucapan terima kasih yang tidak terhingga buat keluarga awak. Tentu umi sangat bangga mendapat anak sebaik Adam dan Aiman. Doakan saya supaya terus membuat kebahagiaan dunia akhirat. Sekali lagi saya memohon maaf atas kejahilan saya.
(Malah bilik awak pun dah diceroboh orang asing seperti saya. Saya minta maaf banyak-banyak.)
Salam Maaf.
Adam mengetap bibir. Sedikit pun tidak ada kesalahan yang dilakukan Cahaya padanya. Malah dia tidak memandang Cahaya pada masa lalunya, tetapi dia melihat Cahaya itu pada ketabahannya meneruskan kehidupan. Pada cintanya yang mengejar Cinta Illahi. Pada rindunya yang bersinar saat melagukan zikir dan selawat. Ketenangan yang tetap dirasai pada sesiapa sahaja yang memandang Cahaya. Teduh wajah Cahaya disirami sopan bicaranya. Jauh berbeza dengan Cahaya yang ditemuinya di pantai sebulan lalu. Subhanallah, sesungguhnya kuasa Allah tiada batasnya. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Gadis yang mahu membunuh diri dan jiwanya itu kini amat menyintai tarbiyah daripada Allah.
*****
Matanya memandang beg berisi komputer riba di hadapannya. Melayani kebosanan yang mula bertapak, dia memasang komputer riba dan melayari internet melalui wireless di rumah. Membuka email yang semalam telah pun dikemaskini. Terdapat sepuluh email yang belum dibaca. Semuanya dari laman social yang popular itu. Satu persatu dibuka.
Terdapat dua mesej tertera di Facebooknya. Satu daripada sahabat lamanya, Dayana dan satu lagi tentu balasan mesej daripada Adam. Dia menukar gambar profilnya kepada gambar anak palestin yang dicadangkan oleh Adam. Cantik dan sayu. Tapi Cahaya suka dengan gambar barunya.
Email yang lain dibiarkannya. Mesej dari Dayana dibuka dan dibaca teliti.
Salam Caya..
Ke mana kau menghilang?? Dah lama tak nampak kau. At least tell me where are you now. Kau tahu kan aku risau sangat dengan kau, Caya. Aku dapat tahu yang kau dihalau keluar dari rumah, adik kau yang beritahu aku. Adi sekarang pula dengan perempuan lain, kau kenal Nadia kan? Ha..sekarang diorang dah couple!! Tak sangka Nadia yang kita percaya tu tikam kau dari belakang. Benci! Perempuan tak guna! Kalau kau baca mesej ni please reply as soon as possible. Aku sedia bantu kau. Biar kita balas perempuan tu.
Cahaya membalas mesej dari Dayana. Entah kenapa, tidak terbit langsung rasa benci dalam hatinya di saat mengetahui Nadia menggantikan tempatnya sebagai kekasih Adi. Malah, dia memanjatkan rasa syukur yang teramat kerana terlepas dari 'buaya darat' itu, walaupun sepatutnya Adi bertanggungjawab dengan anak yang dikandungnya. Tetapi kini, harapan itu telah lama terkubur. Biarlah, dia lebih rela membesarkan anak ini sendirian. Selesai menghantar balasan, Cahaya segera membuka mesej dari Adam.
Waalaikumussalam..
Cahaya...saya tahu awak pun akan terkejut sebab saya biarkan laptop ni untuk kegunaan awak. Saya risau awak bosan bila tak buat apa-apa. Saya dah sediakan buku atas meja bilik tu. Harap awak sudi membacanya. Umi tak nak awak terlalu banyak bergerak,sebab tu kalau ada buku dan laptop ni sedikit sebanyak dapat hilangkan boring.
Cahaya...Saya sangat suka dengan nama awak yang unik. Sepanjang mana pun sebutan 'cahaya' tapi saya suka. Eh, dah lari tajuk pula, hihi.. Tentang kejadian di pantai dulu, semuanya berlaku atas izin Allah. Tidak tersimpan sedikit marah atau dendam pun tentang awak. Tiada apa yang perlu dimaafkan. Awak pun sedikit sebanyak mengajar saya tentang kehidupan. Ketabahan awak sukar ditemui.
Cahaya...Terjaga dari tidur tidak sama dengan terjaga dari mimpi. Jika terjaga dari tidur, kita akan bangun dan tidak merasakan sesuatu seperti terjaga dari mimpi. Kita seakan dikejutkan dan diminta bermuhasabah diri. Andai mimpi itu mimpi buruk, kita pasti beristighfar dan mencari nilainya yang positif. Andai terjaga dari mimpi indah kita akan bersyukur dan berharap tidak akan terleka darinya. Sesungguhnya hidayah itu milik Allah... Dia memberikan kepada sesiapa sahaja yang dikehendakinya. Bersabar dan pasti kita akan menemui ganjarannya.
Cahaya...untuk pengetahuan awak. Kehadiran awak di rumah serba sederhana dan penerimaan awak pada kesederhanaan itu cukup bermakna buat kami. Sedikit sebanyak kehadiran Cahaya memberi nafas baru buat kami. Malah umi selalu memuji Cahaya pada Adam. Kesungguhan awak mendekati ilmu agama benar-benar dikaguminya. Lihat sahaja diluar sana, berapa orang yang akan bangkit selepas dilanda musibah dan ujian dari Allah? Malah terlalu sedikit yang mahu bersyukur dan kembali ke jalan yang benar. Sedangkan pintu taubat masih terbuka, kemaafan Allah lebih besar dari segala dosa di muka bumi. Subhanallah..
Cahaya... Awak tak perlulah rasa bersalah. Awak bukan menceroboh bilik tu, saya dengan rela hati beri bilik tu kat awak. Harap dapat beri sedikit keselesaan dengan bilik yang tak seberapa. Lagipun awak bukannya orang asing. Selagimana kita seagama, kita adalah saudara. Jangan lupa add ym saya. Adam_Hafizy86@yahoo.com. Kelak kita boleh bicara lebih panjang. Saya dah titipkan pesanan pada Aiman, kalau awak nak Milo atau apa-apa, awak boleh minta tolong kat adik comel kita, Aiman. Jaga diri baik-baik.
Salam ukhwah Cahaya.
Cahaya tersenyum dan tertawa dalam tangisan. Sempat juga Adam ingat tentang 'air Milo' minuman kegemarannya.
Adam...Adam...Tanpa kehadiran awak di rumah ni pun awak masih mampu membuat Cahaya tersenyum. 'Hebat betul aura awak Adam!'
Cahaya bergegas bangun dan menuju ke ruang kamar, terasa ingin tahu yang membuak-buak di dadanya. Buku apakah yang ditinggalkan Adam buatnya? Pandangan tertumpu pada buku itu. Buku tebal?
Ya...buku tebal yang berwarna biru. Buku yang dibaca oleh Adam semalam, baru kini dia melihatnya dengan jelas judul bukunya. 'La Tahzan' Jangan bersedih. Buku yang benar-benar menarik hati. Diselaknya perlahan. Tertera sedikit tulisan tangan dari Adam.
~Khas buat Cahaya yang kami sayangi
La Tahzan..Sesungguhnya Allah bersama kita
Cahaya terharu. Dipeluk buku itu ke dadanya. Hatinya benar-benar terusik. Titisan jernih mengalir lagi.
"Alhamdulillah..Alhamdulillah...Allah bersamaku." Sebutnya dalam sebak.
*****
Aku Cuma An-Nisaa
Ya Allah..
Jadikan aku tabah seperti Ummu Khadijah
Sehingga dirinya digelar afifah solehah
Dialah wanita pertama
Tiada ragu mengucap syahadah
Pengorbanan bersama Rasulullah
Susah senang bersama
Walau hilang harta kerana berdakwah
Walau dipulau 3 tahun 3 bulan
Imannya sedikit pun tak berubah
Mampukah aku setabah dirinya?
Andai diuji sedikit sudah rebah..
Baru dihina sudah mengalah
Ya Allah..tabahkan aku sepertinya..
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Fatimah Az-Zahrah
Betapa tinggi kasihnya pada ayahandanya
Tidak pernah putus asa pada perjuangan dakwah baginda
Anak yang semulia peribadi baginda
Tangannya lah yang membersihkan luka
Tangannya jua yang membersihkan cela
Pada jasad Rasulullah tercinta
Gagahnya dirinya pada dugaan
Mampukah aku sekuat Fatimah?
Saat diri terluka dendam pula menyapa
Saat disakiti maki pula mengganti
Ya Rabbi..teguhkan hatiku sepertinya..
Ya Allah..
Jadikan aku sehebat Masyitah dan Sumaiyah
Tukang sisir yang beriman
dan Keluarga Yasir yang bertakwa
Sungguh kesabaran mereka menggoncang dunia
Iman tetap terpelihara walau nyawa jadi taruhan
Mampukah sabarku seperti mereka?
Tatkala digoda nafsu dunia..
Entah mana hilangnya Iman di dada
Ya Rahman..
Kuatkan Imanku seperti Masyitah
Terjun penuh yakin bersama bayi ke kuali mendidih
Kerana yakin Allah pasti disisi
Sabarkan aku seperti sumaiyah
Biar tombak menusuk jasad..
Iman sedikit pun takkan rapuh.
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Ummu Sulaim
Perkahwinannya dengan Abu Talhah atas mahar Iman
Islamlah Abu Talhah sehingga menjadi sahabat Rasulullah
Betapa hebatnya tarbiyyah isteri pada suami
Hinggakan segala panahan ke Rasulullah pada hari uhud
Disambut dengan belakang jasad Abu Talhah
Ya Allah..
Tarbiyyahkan aku pada cinta sepertinya
Tingginya nilai cinta pada harga Iman
Mampukah aku menatap cinta itu?
Sedangkan rupa yang menjadi pilihan
Ketulusan Iman diketepikan
Ya Allah..
Ilhamkan aku pada cinta sepertinya..
Ya Allah...
Jadikan aku sehebat Aisya Humaira
Isteri termuda Rasulullah
Biar dilempar fitnah
Dia tetap teguh pada ketetapanNya
Isteri sejati yang memangku Nabi
Pada saat terakhir baginda
Hadis dan Sunnah Rasulullah dipertahankan
Betapa hatimu seorang mujahidah
Ya Allah..
Mampukah aku contohi dirinya?
Pada fitnah yang melanda
Diri mula goyah dan putus asa
Teguhkan Imanku sepertinya..Ya Rahim..
Ya Allah..
Teringat diri pada Khansa
Empat orang anaknya mati di Jalan ALLAH
Dia meratap tangis..
Anak sulungnya syahid
Anak keduanya turut syahid
Anak ketiganya dan keempat jua mati syahid
Namun tangisan itu bukan kerana pemergian anak tercinta
Jawabnya kerana tiada lagi anak yang dihantar untuk berjihad
Ya Allah..
Mampukah aku menjadi ibu yang berjihad?
Sedang anak tak tutup aurat pun masih tak terjawab
Sedang anak tinggal solat pun buat tak kisah
Berikan aku kekuatan sepertinya..
Agar bersedia pada akhirat.
Wahai kaum Adam yang bergelar khalifah..
Diriku bukan setabah Ummu Khadijah
Bukan jua semulia Fatimah Az-Zahrah
Apa lagi sesabar Masyitah dan Sumaiyah
Mahupun sehebat Ummu Sulaim
Dan tidak seteguh Aisya Humaira
Kerana diri cuma An-Nisaa akhir zaman
Dimana Aurat semakin dibuka terdedah
Dimana syahadah hanya pada nama
Dimana Dunia yang terus dipuja
Dimana nafsu fana menjadi santapan utama
Dimana batas sentiasa dileraikan
Dimana ukhwah sentiasa dipinggirkan
Wahai Kaum Hawa
Kita cuma An-Nisaa
Para pendosa yang terbanyak di neraka
Lantas walau tak setabah para Mujahidah
Namun Tabahlah pada ketetapan Allah
Kerana padanya ada Syurga!
Walau tak semulia para wanita sirah
Tapi muliakan diri dengan agama yang memelihara
kerana padanya ada Pahala!
Walau tak sesabar para wanita solehah
Namun sabarkan jiwa pada nafsu dunia yang menyeksa
Kerana padanya ada bahagia!
Sesungguhnya Hawa tercipta dari Tulang rusuk kaum Adam
Bukan untuk ditindas kerana lemah
Tapi untuk dilindungi kerana Indah
dan Indah apabila tertutup terpelihara
Kerana disitulah terjaganya Syahadah
Bak mekarnya wanita dalam sirah
Tuntunlah kami ke arah syurga..
Bicara dari An-Nisaa yang hina..
Makbulkan doaku..
Aamiin..
*****
"Setiap kejadian yang berlaku pasti ada hikmahnya, sesuatu yang baik belum tentu berakhir dengan baik. Begitu juga sesuatu yang buruk belum tentu berakhir dengan derita. Apa yang penting ialah tanamkan cinta pada Allah, pada jalanNya. Keyakinan pada Allah harus melebihi daripada keyakinan kita pada diri sendiri, malah pada orang lain. Memanglah mudah untuk kita berkata dan payah untuk melakukan. Memanglah mudah untuk jatuh rebah dan susah untuk bangun kembali. Memanglah mudah untuk berbuat amal tetapi payah pada istiqamah. InsyaAllah, semuanya terletak pada kekuatan hati yang turut dipandu oleh akal kita. Akal yang bertunjangkan iman dan ilmu. Kita sering berbicara tentang taubat dan bila masa sesuai untuk dilakukan. Seandainya rasa cinta itu wujud, pasti akan ada jiwa hamba yang rindu beramal dengan Maha pencipta. Lihat sahaja pada nadi, selagi nadi berdenyut, selagi nafas menghembus, pintu taubat masih terbuka buat hambaNya. Tetapi kesombongan kita yang membawa kita malu untuk bertaubat pada hari ini. Keegoan kita yang menarik kita untuk bertangguh pada hari esok, kejahilan kita yang membuat kita berfikir akan selalunya ada hari esok. Seandainya dosa itu dapat dilihat, pasti kita dipenuhi dengan noda. Seandainya pahala itu dapat dilihat, pasti diri dikabus dengan riak. Para pencinta Illahi itu pemalu, malu menzalimi diri yang hanya pinjaman dari Nya. Para pencinta jihad fisabilillah itu penakut, penakut pada mati tanpa berjuang menegakkan agama Allah. Para pejuang syahid itu pengecut, pengecut kepada mati tanpa mengingati Allah."
Panjang bicara Cahaya pada petang itu sempena undangan sahabat baiknya, Damia. Pertemuan di atas takdir Allah telah menyatukan minat mereka untuk bersatu dalam jihad.
Cahaya turut menguruskan butik dan kadangkala meluangkan masa untuk hobinya yang minat dalam bidang penulisan. Sebuah novel bertajuk 'Nafas cinta Insyirah' berjaya diterbitkan dengan izin Allah dan diedarkan secara percuma kepada penghuni Rumah Annisa. Malah hasil keuntungannya akan diberikan separuh kepada rumah perlindungan Annisa. Terbit kukuh di dalam hatinya, jihad untuk memperbaiki diri sendiri dan jihad untuk memperjuangkan jalan mencari cinta Allah.
Insyirah... Cinta kali pertamanya pada kalamullah surah Insyirah dan kemudian dipilih sebagai nama anak perempuannya. Adam yang duduk di hujung dewan setia menanti isterinya selesai sesi usrah dengan penghuni rumah kedua mereka, Baitul Annisa.
"Bantu-membantu lah antara kamu atas urusan kebaikan dan taqwa, dan jangan lah pula kamu bersubahat membantu dalam urusan dosa, keji dan permusuhan.(Al-Maidah : 2)
Dan Saidina Ali bin Abu Talib pula pernah berkata :
"Kadang-kadang dibuka bagimu pintu taat & tidak dibuka bagimu pintu penerimaan. Di kala yang lain pula ditakdirkan bagi engkau perbuatan maksiat,tetapi hal itu merupakan jalan bagimu untuk sampai (kepada kebaikan). Perbuatan maksiat yang menimbulkan perasaan bersalah & menyesal lebih dari perbuatan taat yang menimbulkan perasaan takbur & angkuh. (Ibnu Athaillah)..
Sekalung jutaan kesyukuran, Alhamdulillah..buat suami tercinta Adam Hafizy dan anak tersayang, Insyirah serta umi dan keluarga. Papa dan Mama yang sentiasa mekar dalam doa."
Ucap Cahaya sebelum menutup usrah pada petang itu dengan bacaan doa dan selawat sambil matanya mengerling dan tersenyum memandang anak dan suaminya dari jauh.
- Artikel iluvislam.com
HARI QIAMAT
Gambaran Hari Qiamat
✐ Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.
✐ Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya "Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?" Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya "Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.
✐ Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil a.s. dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.
✐ Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut "Ajbuz Zanbi" yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.
✐ Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu kerana pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.
✐ Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.
✐ Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.
✐ Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh makhluk terkejut melihat saiz malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.
✐ Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukau hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka rasai kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.
✐ Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad SAW bernama Al-Kausar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.
✐ Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan dari Arasy. Mereka ialah:
ⅰ- Pemimpin yang adil.
ⅱ- Orang muda yang taat kepada perintah Allah.
ⅲ- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid.
ⅳ- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah.
ⅴ- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata "Aku takut pada Allah".
ⅵ- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai).
ⅶ- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.
✐ Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara "pergilah berjumpa dengan para Nabi". Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal kerana Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah SWT. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.
✐ Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad SAW ke hadrat Allah SWT. Lalu diperkenankan doa baginda.
✐ Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk kerana mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Tuhan yang dipikul oleh 8 orang malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga 'Arasy itu tiba dibumi.
✐ 'Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang sentiasa dipikul oleh 4 orang malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.
✐ Kursi iaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 orang malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari 'Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.
✐ Seluruh makhluk pun menundukkan kepala kerana takut. Lalu dimulakan timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & 'Atid / Kiraman Katibin.
✐ Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.
✐ Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad SAW, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.
✐ Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.
✐ Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.
✐ Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.
✐ Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.
✐ Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta'ala dengan Maha Bijaksana.
✐ Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehinggalah seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.
✐ Syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat :
ⅰ- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab.
ⅱ- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab.
ⅲ- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka.
(Semua syafaat ini tertakluk kepada keizinan Allah SWT.)
✐ Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Tuhan untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.
✐ Setelah berjaya dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratul Mustaqim ialah jambatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jambatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.
✐ Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka sentiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.
✐ Para malaikat berdiri di kanan dan kiri sirat mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti sirat, hanya seorang sahaja yang Berjaya melepasinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.
Rujukan: Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al- Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004.
☞ Jika sekiranya kalian ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat² yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW: ❝ Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat. ❞ Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
① Sedekah/amal jariahnya.
② Doa anak²nya yang soleh.
③ Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.
sumber: Amar Sufi
✐ Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.
✐ Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya "Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?" Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya "Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.
✐ Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil a.s. dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.
✐ Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut "Ajbuz Zanbi" yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.
✐ Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu kerana pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.
✐ Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.
✐ Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.
✐ Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh makhluk terkejut melihat saiz malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.
✐ Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukau hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka rasai kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.
✐ Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad SAW bernama Al-Kausar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.
✐ Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan dari Arasy. Mereka ialah:
ⅰ- Pemimpin yang adil.
ⅱ- Orang muda yang taat kepada perintah Allah.
ⅲ- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid.
ⅳ- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah.
ⅴ- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata "Aku takut pada Allah".
ⅵ- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai).
ⅶ- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.
✐ Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara "pergilah berjumpa dengan para Nabi". Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal kerana Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah SWT. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.
✐ Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad SAW ke hadrat Allah SWT. Lalu diperkenankan doa baginda.
✐ Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk kerana mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Tuhan yang dipikul oleh 8 orang malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga 'Arasy itu tiba dibumi.
✐ 'Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang sentiasa dipikul oleh 4 orang malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.
✐ Kursi iaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 orang malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari 'Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.
✐ Seluruh makhluk pun menundukkan kepala kerana takut. Lalu dimulakan timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & 'Atid / Kiraman Katibin.
✐ Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.
✐ Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad SAW, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.
✐ Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.
✐ Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.
✐ Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.
✐ Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.
✐ Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta'ala dengan Maha Bijaksana.
✐ Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehinggalah seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.
✐ Syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat :
ⅰ- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab.
ⅱ- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab.
ⅲ- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka.
(Semua syafaat ini tertakluk kepada keizinan Allah SWT.)
✐ Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Tuhan untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.
✐ Setelah berjaya dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratul Mustaqim ialah jambatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jambatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.
✐ Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka sentiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.
✐ Para malaikat berdiri di kanan dan kiri sirat mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti sirat, hanya seorang sahaja yang Berjaya melepasinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.
Rujukan: Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al- Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004.
☞ Jika sekiranya kalian ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat² yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW: ❝ Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat. ❞ Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
① Sedekah/amal jariahnya.
② Doa anak²nya yang soleh.
③ Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.
sumber: Amar Sufi
Tuesday, November 9, 2010
Kisah Malaikat Jibril AS dengan Kerbau, Kelelawar serta Cacing tentang rasa syukur
Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau”. Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri”. Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, “hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar”. “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya”, jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing”. Si cacing menjawab, ” Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya”.
Sumber http://www.facebook.com/notes/suhaila-al-amrie/jibril-as-kerbau-kelelawar-dan-cacing/175948984747
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau”. Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri”. Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, “hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar”. “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya”, jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing”. Si cacing menjawab, ” Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya”.
Sumber http://www.facebook.com/notes/suhaila-al-amrie/jibril-as-kerbau-kelelawar-dan-cacing/175948984747
Betul gak tu....
1st aku nak minta maaf sesape yg terase ngn luahan hati aku sebelum ni.....sebenarnye tujuan aku wat blog ni nak luahan hati aku yg agak bosan...dulu aku ade post blog tentang aku n kawan2 aku..ade yg terase agaknye ngn luahan aku..aku minta maaf pada "hamba Allah" Tersebut yg telah menyedarkan aku...sebenarnye aku tulis blog ni pon untuk luahan rase..lgpon skg ni aku sunyi..tak serancak dulu...maybe kesilapan aku gak...aku minta maaf banyak2....korang boleh terime aku blk Alhamdulillah n terima kasih banyak2.... sedangkan Nabi ampunkan umatnya...inikan plk kite manusia biase ada salah silap...tp harap2 cepat la sedar n berubah ke arah kebaikan...tp terserah pada korang...sebenarnye aku mmg tak berani nak berterus terang...sebab aku tak nak bermasam muke...or putus hubungn...aku tau aku berselah tp apekan daya..aku insan lemah...aku hanya mampu berdoa...aku tau dulu aku tak baik...aku jahat...aku jahil....aku nakal...tp skg aku nak berubah....aku dah terime balasan...Terima kasih banyak2 yg telah menyedarkan aku...aku minta maaf lambat bace komen anda...sebab baru td aku buka komen tu..sebab aku nak delete yg lepas2...harap2 sesape yg dah pangkah aku...dpt terime aku blk...sesape yg marah kat aku aku minta maaf banyak2...semoga kite semua dpt kebaikan dunia dan akhirat...salam syg dari aku..MUHAMAD FADZIL BIN SHAHRUL-ANUAR...SKU SYG KORANG...
Monday, November 8, 2010
Teluk Intan <---> Johor
penatnye jln jauh... perjalanan yang makan masa 6 ke 7 jam lebey dlm bas mmg memeritkan b yg tak biase... pegi johor sebb nak jumpe anak sedare yg semakin bijak n agak aktif..disamping tu aku nak hilangkan kebosanan duk umah ngadap terapi hospital je tak habis2... n kawan2 yg semakin berkurangn aku rase...lepas sorang, sorang tade ngn aku...ke aku yg berperasaan gitu.... errrrrrrrr whateva la... bukan diorang amik kisah pon...last member2 t.care , jumpe, n lepak ngn aku mase aku sakit... so different ngn mereka yg agak "hari tu"...aku dah tak blh lepak ke ngn korang? tak blh sembang ngn korang ke? sebab aku OKU eh?? kpale dah lain eh?? okeng...thanks a lot... hope `u` will get what `u` want... anyway aku rase ade something yg perlu aku grab before late...so lantak korang la ak pikir ape...aku tau ape nak wat... ehhh apsal slh tajuk aku ni....okeng2 back to the based... errrr perjalanan tu yg paling pecah rekod untuk aku...naik bas g johor straight tak tido....ngn perut memulasnye...ngn tak tido dlm bas..tp yg best dpt ilmu...sebab aku bace buku skit...buku yg tak pernah aku bace padahal kat umah anytime buku tu atas rak bleh amik bace...tp tu la kan...nak feel..kat rumah tak bace sebab banyak pengaruh...ngn tenet ngn tv...ntah bile nak bace...dlm bas nak tengok tv pemende...tv ade mmg ade tp tak on..tenet plk..aku mane de laptop...dah tu plk...celah mane plk nak ade tenet... emmmmmmmmmm....tp kan...ni le perjlnan aku sorang2 tak ade teman (family or kawan) at the same time aku OKU....tp Alhamdulillah aku boleh survive... pegi n blk... yg penting berani n yakin... n the most important usaha, doa, tawakkal... InsyaAllah selamat... mase nak blk tu...dah beli tike hari semlm..tp unfortunately....(travel protection MYR 00.00) Tp Alhamdulillah tak jadi sebarang kejadian buruk... maybe sebab driver tu islam n aku pon dah berdoa...n die plk drive slow...yg ak bestnye tiket pukul 9.30 pagi bertolak tp 10.30 baru bertolak sebab bas tu brek rosak n ganti ngn bas lain..tu yg lewat sejam...sampai teluk intan lebey kurang jam 5.30 lebey...maybe kul 6..aku pon tak ingat... hmmmmmmmm aku pon dah layu ni...
nah dengar lagu ni...best wooooooooooo tak nak dengar sukati le...http://www.youtube.com/watch?v=toL1kja52TE
nah dengar lagu ni...best wooooooooooo tak nak dengar sukati le...http://www.youtube.com/watch?v=toL1kja52TE
Subscribe to:
Comments (Atom)

